Gowes demi "Rarawuan"
Goreng "rarawuan" di Warcep, Dago. /visi.news/untung sumarsono
- Perjalanan pagi menuju Tahura Djuanda dan perburuan rasa yang kian langka.
VISI.NEWS - MINGGU pagi (19/7/2026) di Bandung selalu memiliki cerita. Bagi sebagian orang, akhir pekan adalah waktu untuk beristirahat lebih lama. Namun bagi para pesepeda, Minggu pagi justru menjadi saat terbaik untuk mengayuh pedal, menaklukkan tanjakan, dan menikmati udara segar yang semakin sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota.
Minggu ini, tujuan kami sederhana: Gowes ke Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. Namun perjalanan tersebut ternyata menghadirkan pengalaman yang lebih berkesan dari sekadar olahraga. Di ujung kayuhan, ada satu kuliner tradisional yang menjadi penyemangat sekaligus pelepas lelah: gorengan rarawuan.
Pagi yang Dingin dan Jalanan yang Masih Lengang
Pukul 04.00 WIB, layar televisi menayangkan pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Prancis. Banyak pencinta sepak bola memilih begadang untuk menyaksikannya. Saya justru menyiapkan perlengkapan gowes yang sudah dirapikan sejak malam sebelumnya.
Jersey, helm, sarung tangan, rompi, dan kacamata sudah siap. Tinggal menyiapkan sepeda untuk perjalanan menuju titik kumpul di Warung Acep atau yang lebih dikenal para goweser sebagai Warcep, yang berada di kawasan Tahura Pintu 2.
Selepas azan Subuh dan menunaikan salat, rutinitas pagi di rumah tetap dijalankan, membantu istri menyelesaikan pekerjaan ringan sebelum berangkat. Udara Bandung pagi itu terasa begitu dingin hingga menusuk telinga.
Tepat pukul 06.00 WIB saya mulai mengayuh sepeda.
Jalanan masih relatif sepi. Hanya satu-dua pesepeda yang melintas dan saling menyapa. Saat melewati Alun-Alun Bandung, tubuh mulai terasa hangat seiring munculnya sinar matahari pagi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!