Gowes demi "Rarawuan"
Goreng "rarawuan" di Warcep, Dago. /visi.news/untung sumarsono
Saat itulah rasa capai, pegal, dan lelah akibat tanjakan panjang seolah menghilang.
Warcep perlahan dipenuhi para pesepeda dan pengunjung yang hendak hiking di kawasan Tahura. Suara obrolan, gelak tawa, dan aroma makanan bercampur dengan udara sejuk pegunungan menciptakan suasana yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Kuliner Langka Layak Dilestarikan
Bagi sebagian orang, rarawuan mungkin hanya gorengan biasa.
Namun bagi mereka yang pernah mencicipinya, rarawuan adalah bagian dari kenangan masa lalu.
Gorengan tradisional ini dibuat dari campuran tepung terigu, kelapa parut, santan, kacang gajih, garam, dan sedikit penyedap rasa. Adonan kemudian digoreng tipis hingga menghasilkan tekstur renyah dengan cita rasa gurih yang khas.
Sayangnya, kini rarawuan semakin jarang ditemukan. Banyak penjual gorengan memilih menjual bakwan, bala-bala, cireng, atau gehu yang lebih populer.
Karena itulah keberadaan rarawuan di Warcep menjadi daya tarik tersendiri. Selain harganya ramah di kantong, rasanya mampu membangkitkan nostalgia sekaligus menjadi energi tambahan setelah menaklukkan tanjakan menuju Tahura.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!