Aher Dorong Pembentukan Badan Pengelola Kopi untuk Perkuat Ekspor
PN
Ketua BAM DPR RI Ahmad Heryawan./visi.news/ist.
VISI.NEWS – Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, Ahmad Heryawan, mendorong pemerintah membentuk badan yang secara khusus mengelola komoditas kopi nasional hingga siap menembus pasar ekspor. Menurutnya, kehadiran lembaga tersebut diperlukan agar pengelolaan kopi tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Menurut pria yang biasa disapa Aher ini, Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara penghasil kopi. Namun, potensi tersebut perlu didukung tata kelola yang baik hingga ke tahap pemasaran internasional agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat.
"Di tingkat hilir juga ada persoalan stabilitas harga. Saat yang sama juga perlu ada semacam badan kopi yang bertugas mengelola komoditas kopi sehingga layak untuk menjadi kopi ekspor. Ini perlu bimbingan kan, karena tentu ketika ekspor ya mereka di luar negeri punya persyaratan, termasuk syarat higienis dan lain-lain," ujarnya dalam kegiatan Festival Aspirasi BAM DPR RI bertema Kopi sebagai Tanaman Pangan, Tanaman Konservasi, dan Tanaman Industri di Bandung, Jawa Barat, Minggu (19/7/2026).
Politisi Fraksi PKS itu menilai, keberadaan badan pengelola tersebut akan membantu petani dan pelaku usaha memenuhi standar ekspor, sekaligus memperkuat daya saing kopi Indonesia di pasar global. Ia menambahkan, pengelolaan kopi tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan keterlibatan negara mulai dari aspek pembinaan, peningkatan kualitas produk, hingga membuka akses pasar internasional.
"Akhirnya itulah pengelolaan kopi dari mulai ke hulu, tengah, sampai ke hilir, sampai ke ekspornya dipermudah, ada badan ekspornya. Itu perlu ada peran pemerintah, peran negara, negara hadir demi untuk menghadirkan kopi yang berkualitas dari hulu sampai ke hilir yang tentu dampaknya akan hadir kesejahteraan bagi masyarakat luas," jelasnya.
Aher pun menilai pengembangan sektor perkopian nasional memerlukan dukungan negara secara menyeluruh, mulai dari penyediaan bibit unggul, pendampingan petani, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor hilir. Menurutnya, penguatan ekosistem kopi menjadi kunci agar komoditas tersebut mampu memberikan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Ia menjelaskan, perhatian pemerintah perlu dimulai dari sektor hulu, khususnya dalam penyediaan bibit kopi unggul yang telah tersertifikasi. Dengan demikian, petani dapat memperoleh hasil panen yang berkualitas dan memiliki produktivitas yang lebih baik.
"Di tingkat hulu juga tentu para petani perlu penyediaan bibit kopi karena kalau masyarakat membibitnya sendiri bisa jadi kopinya bukan kopi unggul. Kan sayang petani membibit kopi sendiri kemudian menanam sampai tumbuh besar tapi ternyata tidak berbuah. Atau berbuah tapi kecil-kecil karena tidak ada sertifikasi," ujarnya.
Selain bibit, Aher juga mendorong pemerintah memberikan perhatian terhadap kebutuhan pupuk serta pendampingan kepada petani, sebagaimana dukungan yang selama ini diberikan kepada komoditas tanaman pangan lainnya.
Lebih lanjut di sektor tengah, Aher menilai peningkatan nilai ekonomi kopi hanya dapat dicapai apabila petani dan pelaku usaha memperoleh pelatihan serta dukungan peralatan pengolahan.
Menurut pria yang biasa disapa Aher ini, Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara penghasil kopi. Namun, potensi tersebut perlu didukung tata kelola yang baik hingga ke tahap pemasaran internasional agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat.
"Di tingkat hilir juga ada persoalan stabilitas harga. Saat yang sama juga perlu ada semacam badan kopi yang bertugas mengelola komoditas kopi sehingga layak untuk menjadi kopi ekspor. Ini perlu bimbingan kan, karena tentu ketika ekspor ya mereka di luar negeri punya persyaratan, termasuk syarat higienis dan lain-lain," ujarnya dalam kegiatan Festival Aspirasi BAM DPR RI bertema Kopi sebagai Tanaman Pangan, Tanaman Konservasi, dan Tanaman Industri di Bandung, Jawa Barat, Minggu (19/7/2026).
Politisi Fraksi PKS itu menilai, keberadaan badan pengelola tersebut akan membantu petani dan pelaku usaha memenuhi standar ekspor, sekaligus memperkuat daya saing kopi Indonesia di pasar global. Ia menambahkan, pengelolaan kopi tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan keterlibatan negara mulai dari aspek pembinaan, peningkatan kualitas produk, hingga membuka akses pasar internasional.
"Akhirnya itulah pengelolaan kopi dari mulai ke hulu, tengah, sampai ke hilir, sampai ke ekspornya dipermudah, ada badan ekspornya. Itu perlu ada peran pemerintah, peran negara, negara hadir demi untuk menghadirkan kopi yang berkualitas dari hulu sampai ke hilir yang tentu dampaknya akan hadir kesejahteraan bagi masyarakat luas," jelasnya.
Aher pun menilai pengembangan sektor perkopian nasional memerlukan dukungan negara secara menyeluruh, mulai dari penyediaan bibit unggul, pendampingan petani, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor hilir. Menurutnya, penguatan ekosistem kopi menjadi kunci agar komoditas tersebut mampu memberikan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Ia menjelaskan, perhatian pemerintah perlu dimulai dari sektor hulu, khususnya dalam penyediaan bibit kopi unggul yang telah tersertifikasi. Dengan demikian, petani dapat memperoleh hasil panen yang berkualitas dan memiliki produktivitas yang lebih baik.
"Di tingkat hulu juga tentu para petani perlu penyediaan bibit kopi karena kalau masyarakat membibitnya sendiri bisa jadi kopinya bukan kopi unggul. Kan sayang petani membibit kopi sendiri kemudian menanam sampai tumbuh besar tapi ternyata tidak berbuah. Atau berbuah tapi kecil-kecil karena tidak ada sertifikasi," ujarnya.
Selain bibit, Aher juga mendorong pemerintah memberikan perhatian terhadap kebutuhan pupuk serta pendampingan kepada petani, sebagaimana dukungan yang selama ini diberikan kepada komoditas tanaman pangan lainnya.
Lebih lanjut di sektor tengah, Aher menilai peningkatan nilai ekonomi kopi hanya dapat dicapai apabila petani dan pelaku usaha memperoleh pelatihan serta dukungan peralatan pengolahan.
"Di tingkat tengah, di tingkat pengolahan tentu perlu ada beragam pelatihan bagi masyarakat, beragam bimbingan bagi masyarakat, termasuk bantuan-bantuan mesin pengolahan bagi masyarakat supaya masyarakat tidak saja memetik kopi dengan nilai biasa-biasa saja. Karena kalau kemudian sudah ada pengolahan lebih lanjut, maka value-nya akan meningkat," katanya.
Sementara pada sektor hilir, Aher menekankan pentingnya memperkuat sumber daya manusia agar produk kopi Indonesia semakin berdaya saing. Menurutnya, peningkatan kualitas barista dan roaster akan membuka peluang kerja sekaligus memperkuat industri kopi nasional. "Saya kira sekarang mulai ada beasiswa untuk urusan perkopian, khususnya sekolah-sekolah kopi untuk jadi roaster dan jadi barista," ungkapnya.
Aher berharap pemerintah terus memperkuat ekosistem perkopian secara utuh sehingga kopi Indonesia tidak hanya unggul di tingkat produksi, tetapi juga memiliki nilai tambah melalui pengolahan, pemasaran, dan sumber daya manusia yang berkualitas.
Aher berharap pemerintah terus memperkuat ekosistem perkopian secara utuh sehingga kopi Indonesia tidak hanya unggul di tingkat produksi, tetapi juga memiliki nilai tambah melalui pengolahan, pemasaran, dan sumber daya manusia yang berkualitas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!