Abu Vulkanik Anak Krakatau Sampai Bengkulu, Erna Sari Dewi Dorong Mitigasi Diperkuat 7 Sep 2026 Bandara Husein Sastranegara Masih Ditutup, 14 Penerbangan Terdampak Erupsi Anak Krakatau 7 Sep 2026 Terlibat Narkoba dan Mangkir Dinas, Polisi Tasikmalaya Dipecat PTDH 7 Sep 2026 Cara Mengecek Kualitas Udara Hari Ini lewat HP 7 Sep 2026 Fiorentina Pecat Fabio Grosso Setelah Tiga Kekalahan Beruntun 7 Sep 2026 Julie Laiskodat: RUU Daerah Kepulauan Harus Seimbangkan Ekologi dan Kesejahteraan Masyarakat 7 Sep 2026 Gus Maftuh Respons Polemik Buku Islam Ala Prabowo: Jangan Terjebak Judul 7 Sep 2026 BMKG: Fase Erupsi Anak Krakatau Berakhir Setelah 25 Jam 7 Sep 2026 BUMN Dipangkas dari 1.030 Jadi 250, Nengah Senantara: Nasib Karyawan Tetap Terjamin 7 Sep 2026 Ranny Fahd: Kenaikan Anggaran Kemendukbangga 2027 Harus Berdampak pada Pembangunan SDM 7 Sep 2026 Abu Vulkanik Anak Krakatau Sampai Bengkulu, Erna Sari Dewi Dorong Mitigasi Diperkuat 7 Sep 2026 Bandara Husein Sastranegara Masih Ditutup, 14 Penerbangan Terdampak Erupsi Anak Krakatau 7 Sep 2026 Terlibat Narkoba dan Mangkir Dinas, Polisi Tasikmalaya Dipecat PTDH 7 Sep 2026 Cara Mengecek Kualitas Udara Hari Ini lewat HP 7 Sep 2026 Fiorentina Pecat Fabio Grosso Setelah Tiga Kekalahan Beruntun 7 Sep 2026 Julie Laiskodat: RUU Daerah Kepulauan Harus Seimbangkan Ekologi dan Kesejahteraan Masyarakat 7 Sep 2026 Gus Maftuh Respons Polemik Buku Islam Ala Prabowo: Jangan Terjebak Judul 7 Sep 2026 BMKG: Fase Erupsi Anak Krakatau Berakhir Setelah 25 Jam 7 Sep 2026 BUMN Dipangkas dari 1.030 Jadi 250, Nengah Senantara: Nasib Karyawan Tetap Terjamin 7 Sep 2026 Ranny Fahd: Kenaikan Anggaran Kemendukbangga 2027 Harus Berdampak pada Pembangunan SDM 7 Sep 2026

Abu Vulkanik Anak Krakatau Sampai Bengkulu, Erna Sari Dewi Dorong Mitigasi Diperkuat

Desi Rossilawati
PN
Senin, 7 September 2026 | 13:43 WIB
Bagikan
Abu Vulkanik Anak Krakatau Sampai Bengkulu, Erna Sari Dewi Dorong Mitigasi Diperkuat

Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Partai Nasdem Erna Sari Dewi./visi.news/ist.

VISI.NEWSAnggota DPR RI Daerah Pemilihan Bengkulu, Erna Sari Dewi, meminta masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan menyusul sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terpantau hingga wilayah Bengkulu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengkonfirmasi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mencapai sejumlah wilayah, termasuk Bengkulu. Pergerakan abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer dan arah angin pada ketinggian tertentu.

“Kalau abu vulkanik sampai ke Bengkulu, masyarakat tidak perlu panik. Sebaran abu memang sangat dipengaruhi oleh kondisi angin dan atmosfer. Yang penting sekarang adalah pemerintah memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang akurat mengenai sebaran abu dan dampaknya terhadap kesehatan maupun aktivitas masyarakat,” ujar Erna.

Menurut Erna, masyarakat perlu mengikuti perkembangan informasi resmi dari BMKG, Badan Geologi/PVMBG, BNPB, serta pemerintah daerah dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Namun demikian, Erna menilai situasi ini juga harus menjadi momentum untuk kembali memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, terutama karena Bengkulu merupakan salah satu wilayah yang memiliki risiko gempa bumi cukup tinggi.

“Kita perlu ingat bahwa Bengkulu berada di pantai barat Sumatera, di kawasan yang secara geologi sangat aktif. Bengkulu bukan wilayah yang asing dengan gempa. Karena itu, kewaspadaan dan mitigasi harus menjadi bagian dari kesiapan kita sehari-hari, bukan baru dilakukan ketika bencana terjadi,” katanya.

Kondisi geografis Bengkulu yang berhadapan dengan zona tektonik aktif di sepanjang pantai barat Sumatera membuat wilayah ini memiliki potensi mengalami gempa bumi. BMKG juga mencatat sejumlah kejadian gempa di sekitar Bengkulu, termasuk gempa M5,3 di Bengkulu Selatan pada Mei 2026. (BMKG)

Erna menegaskan bahwa kerawanan tersebut tidak berarti aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini merupakan pertanda akan terjadinya gempa di Bengkulu.

“Saya kira kita harus berhati-hati dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Jangan sampai erupsi Anak Krakatau kemudian dikaitkan secara langsung dengan akan terjadinya gempa di Bengkulu. Secara ilmiah, itu tidak bisa disimpulkan seperti itu. Tetapi kita juga tidak boleh mengabaikan fakta bahwa Bengkulu memang berada di kawasan rawan gempa dan tsunami,” tegasnya.

Menurutnya, justru kondisi tersebut harus menjadi alasan bagi seluruh pihak untuk memperkuat mitigasi.

“Jadi pesan saya bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, tetapi justru mengajak kita semua untuk lebih siap. Kalau kita tahu Bengkulu rawan gempa, maka sistem peringatan dini harus diperkuat, jalur evakuasi harus jelas, tempat evakuasi harus siap, bangunan dan infrastruktur harus memperhatikan aspek ketahanan bencana, dan masyarakat harus tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi,” ujar Erna.

Erna juga meminta pemerintah daerah dan pemerintah pusat meningkatkan koordinasi dalam menghadapi berbagai risiko bencana di Bengkulu, termasuk gempa bumi, tsunami, maupun bencana hidrometeorologi.

Menurutnya, penguatan mitigasi harus mencakup pemutakhiran peta risiko bencana, penguatan sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi secara berkala, kesiapan fasilitas kesehatan dan BPBD, serta memastikan infrastruktur publik di wilayah rawan memenuhi standar keselamatan.

“Mitigasi tidak boleh berhenti pada seremoni atau simulasi sesekali. Masyarakat harus benar-benar tahu ke mana harus menyelamatkan diri, pemerintah harus tahu bagaimana merespons, dan infrastruktur kita harus disiapkan menghadapi risiko yang memang ada,” katanya.

Erna menambahkan, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Bengkulu juga perlu memiliki pemahaman dasar mengenai tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi gempa kuat dan berlangsung cukup lama, termasuk kemungkinan perlunya segera menuju tempat yang lebih tinggi apabila terdapat indikasi tsunami.

“Kita tidak pernah tahu kapan bencana akan terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan ketika bencana itu datang, masyarakat tidak berada dalam kondisi tidak siap. Bengkulu punya pengalaman panjang dengan gempa. Karena itu, kewaspadaan harus menjadi budaya bersama,” pungkas Erna.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.