Abu Vulkanik Anak Krakatau Sampai Bengkulu, Erna Sari Dewi Dorong Mitigasi Diperkuat
Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Partai Nasdem Erna Sari Dewi./visi.news/ist.
VISI.NEWS — Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Bengkulu, Erna Sari Dewi, meminta masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan menyusul sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terpantau hingga wilayah Bengkulu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengkonfirmasi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mencapai sejumlah wilayah, termasuk Bengkulu. Pergerakan abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer dan arah angin pada ketinggian tertentu.
“Kalau abu vulkanik sampai ke Bengkulu, masyarakat tidak perlu panik. Sebaran abu memang sangat dipengaruhi oleh kondisi angin dan atmosfer. Yang penting sekarang adalah pemerintah memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang akurat mengenai sebaran abu dan dampaknya terhadap kesehatan maupun aktivitas masyarakat,” ujar Erna.
Menurut Erna, masyarakat perlu mengikuti perkembangan informasi resmi dari BMKG, Badan Geologi/PVMBG, BNPB, serta pemerintah daerah dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Namun demikian, Erna menilai situasi ini juga harus menjadi momentum untuk kembali memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, terutama karena Bengkulu merupakan salah satu wilayah yang memiliki risiko gempa bumi cukup tinggi.
“Kita perlu ingat bahwa Bengkulu berada di pantai barat Sumatera, di kawasan yang secara geologi sangat aktif. Bengkulu bukan wilayah yang asing dengan gempa. Karena itu, kewaspadaan dan mitigasi harus menjadi bagian dari kesiapan kita sehari-hari, bukan baru dilakukan ketika bencana terjadi,” katanya.
Kondisi geografis Bengkulu yang berhadapan dengan zona tektonik aktif di sepanjang pantai barat Sumatera membuat wilayah ini memiliki potensi mengalami gempa bumi. BMKG juga mencatat sejumlah kejadian gempa di sekitar Bengkulu, termasuk gempa M5,3 di Bengkulu Selatan pada Mei 2026. (BMKG)
Erna menegaskan bahwa kerawanan tersebut tidak berarti aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini merupakan pertanda akan terjadinya gempa di Bengkulu.
“Saya kira kita harus berhati-hati dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Jangan sampai erupsi Anak Krakatau kemudian dikaitkan secara langsung dengan akan terjadinya gempa di Bengkulu. Secara ilmiah, itu tidak bisa disimpulkan seperti itu. Tetapi kita juga tidak boleh mengabaikan fakta bahwa Bengkulu memang berada di kawasan rawan gempa dan tsunami,” tegasnya.
Menurutnya, justru kondisi tersebut harus menjadi alasan bagi seluruh pihak untuk memperkuat mitigasi.
“Jadi pesan saya bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, tetapi justru mengajak kita semua untuk lebih siap. Kalau kita tahu Bengkulu rawan gempa, maka sistem peringatan dini harus diperkuat, jalur evakuasi harus jelas, tempat evakuasi harus siap, bangunan dan infrastruktur harus memperhatikan aspek ketahanan bencana, dan masyarakat harus tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi,” ujar Erna.
Erna juga meminta pemerintah daerah dan pemerintah pusat meningkatkan koordinasi dalam menghadapi berbagai risiko bencana di Bengkulu, termasuk gempa bumi, tsunami, maupun bencana hidrometeorologi.
Menurutnya, penguatan mitigasi harus mencakup pemutakhiran peta risiko bencana, penguatan sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi secara berkala, kesiapan fasilitas kesehatan dan BPBD, serta memastikan infrastruktur publik di wilayah rawan memenuhi standar keselamatan.
“Mitigasi tidak boleh berhenti pada seremoni atau simulasi sesekali. Masyarakat harus benar-benar tahu ke mana harus menyelamatkan diri, pemerintah harus tahu bagaimana merespons, dan infrastruktur kita harus disiapkan menghadapi risiko yang memang ada,” katanya.
Erna menambahkan, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Bengkulu juga perlu memiliki pemahaman dasar mengenai tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi gempa kuat dan berlangsung cukup lama, termasuk kemungkinan perlunya segera menuju tempat yang lebih tinggi apabila terdapat indikasi tsunami.
“Kita tidak pernah tahu kapan bencana akan terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan ketika bencana itu datang, masyarakat tidak berada dalam kondisi tidak siap. Bengkulu punya pengalaman panjang dengan gempa. Karena itu, kewaspadaan harus menjadi budaya bersama,” pungkas Erna.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!