VISI | Sibuk
OSIS mengajarkan bahwa organisasi hidup karena program. Negara pun seharusnya hidup karena pelayanan. Organisasi kehilangan arah ketika lebih sibuk mempertahankan citra daripada bekerja. Negara juga menghadapi tantangan yang sama apabila energi lebih banyak dihabiskan untuk merespons kegaduhan daripada menyelesaikan persoalan rakyat. Kesibukan memang tidak selalu identik dengan produktivitas. Ada orang yang tampak sibuk sepanjang hari, tetapi pekerjaannya tidak pernah selesai. Ada pula yang bekerja tenang, namun hasilnya nyata. Masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar terlihat sibuk. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang menghadirkan solusi.
Di ruang OSIS, saya belajar bahwa pemimpin sejati bukan yang paling sering berbicara. Ia adalah yang paling bertanggung jawab terhadap keputusan bersama. Ia tidak menghindari evaluasi. Ia tidak alergi terhadap kritik. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai tameng. Ia memahami bahwa kepercayaan harus dijaga melalui tindakan. Bukankah pelajaran sederhana ini juga layak menjadi inspirasi bagi kehidupan berbangsa? Anak-anak itu masih belasan tahun. Mereka belum memiliki kekuasaan. Mereka belum mengelola anggaran besar. Namun mereka telah belajar bahwa setiap amanah harus dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, tulisan ini bukan hendak meninggikan OSIS dan merendahkan penyelenggara negara. Justru sebaliknya, saya ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai kepemimpinan yang kita tanamkan kepada peserta didik musyawarah, tanggung jawab, evaluasi, keberanian mengakui kekurangan, dan komitmen menjalankan program adalah nilai yang sama yang diharapkan masyarakat hadir dalam ruang publik. Sebab sesungguhnya rakyat tidak sedang menuntut hal yang muluk. Mereka hanya ingin melihat bahwa janji tidak berhenti sebagai kalimat dalam kampanye, tetapi berubah menjadi pekerjaan yang dirasakan manfaatnya.
Setiap Jumat saya melihat pengurus OSIS sibuk menyusun program, melaksanakan program, lalu mengevaluasi program. Kesibukan mereka melahirkan harapan. Semoga kesibukan di ruang-ruang pengambilan keputusan negeri ini juga semakin banyak diisi oleh semangat yang sama: bekerja, memperbaiki, dan menunaikan amanah. Karena sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa ramai perdebatan yang terjadi, melainkan dari seberapa banyak persoalan rakyat yang berhasil diselesaikan. Tanpa kita sadari, pelajaran tentang kepemimpinan yang paling jujur justru sedang berlangsung setiap hari Jumat, di sebuah ruang sederhana bernama rapat OSIS.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!