Pemprov Jatim Perkuat Langkah JFC Menuju Panggung Pariwisata Dunia 27 Jul 2026 Kemenpar Tegaskan JFC Jadi Etalase Pariwisata Indonesia di Mata Dunia 27 Jul 2026 VISI | Sibuk 27 Jul 2026 Dari YouTube ke Timnas Malaysia, Mimpi Wan Kuzain Akhirnya Jadi Nyata 27 Jul 2026 Indonesia Bidik Awal Sempurna, Hadapi Kamboja di Laga Perdana ASEAN Hyundai Cup 2026 27 Jul 2026 Trailer Tabrak Dua Truk dan Motor di Pasuruan, Empat Tewas 27 Jul 2026 Fauzi Amro: DPR Siap Jalankan Fit and Proper Test Calon Gubernur BI 27 Jul 2026 Sistem Eror BPN Bandung Dikeluhkan Warga, Dinilai Buka Celah Praktik Pungli 27 Jul 2026 200 Personel Gabungan Siaga Pascabentrokan Maut di Menteng 27 Jul 2026 Senator Lia Istifhama Desak Polisi Tutup Tambang Pasir Ilegal di Blitar 27 Jul 2026 Pemprov Jatim Perkuat Langkah JFC Menuju Panggung Pariwisata Dunia 27 Jul 2026 Kemenpar Tegaskan JFC Jadi Etalase Pariwisata Indonesia di Mata Dunia 27 Jul 2026 VISI | Sibuk 27 Jul 2026 Dari YouTube ke Timnas Malaysia, Mimpi Wan Kuzain Akhirnya Jadi Nyata 27 Jul 2026 Indonesia Bidik Awal Sempurna, Hadapi Kamboja di Laga Perdana ASEAN Hyundai Cup 2026 27 Jul 2026 Trailer Tabrak Dua Truk dan Motor di Pasuruan, Empat Tewas 27 Jul 2026 Fauzi Amro: DPR Siap Jalankan Fit and Proper Test Calon Gubernur BI 27 Jul 2026 Sistem Eror BPN Bandung Dikeluhkan Warga, Dinilai Buka Celah Praktik Pungli 27 Jul 2026 200 Personel Gabungan Siaga Pascabentrokan Maut di Menteng 27 Jul 2026 Senator Lia Istifhama Desak Polisi Tutup Tambang Pasir Ilegal di Blitar 27 Jul 2026

VISI | Sibuk

Desi Rossilawati
Senin, 27 Juli 2026 | 17:50 WIB
Bagikan
VISI | Sibuk

Agenda pertama hampir selalu sama: mengevaluasi program yang telah dilaksanakan. Mengapa kegiatan kemarin kurang maksimal? Mengapa peserta yang hadir tidak sesuai target? Apa yang harus diperbaiki? Siapa yang harus bertanggung jawab?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengalir tanpa rasa takut. Tidak ada yang sibuk mencari kambing hitam. Tidak ada yang sibuk menyembunyikan kesalahan. Tidak ada yang merasa harga dirinya jatuh hanya karena menerima kritik. Setelah evaluasi selesai, mereka beralih pada agenda berikutnya: menyusun program baru. Ide-ide bermunculan. Ada yang ingin mengadakan bakti sosial. Ada yang mengusulkan lomba literasi. Ada yang menginginkan pelatihan kepemimpinan. Ada pula yang mengusulkan gerakan menjaga kebersihan sekolah. 

Mereka berdebat. Mereka saling menyanggah. Mereka mempertahankan gagasan. Namun ketika keputusan diambil melalui musyawarah, semua kembali menjadi satu tim. Tidak ada yang meninggalkan rapat sambil membawa dendam. Tidak ada yang membuat kelompok tandingan. Tidak ada yang menyebarkan prasangka. Mereka berbeda pendapat, tetapi tetap memiliki tujuan yang sama. 

Saya sering pulang dari pertemuan OSIS dengan hati yang hangat. Sebab di ruangan kecil itulah saya melihat harapan. Namun, perasaan itu sering berubah ketika membuka media sosial, membaca berita, atau menyaksikan tayangan informasi. Di luar pagar sekolah, ruang publik dipenuhi berbagai polemik. Perdebatan politik yang berkepanjangan. Kasus korupsi yang silih berganti. Perselisihan antarelit. Saling menyalahkan. Saling membela kelompok. Belum selesai satu persoalan, muncul persoalan berikutnya. Belum tuntas satu janji, lahir janji yang baru. 

Masyarakat pun lelah. Bukan karena tidak mau mengikuti perkembangan. Melainkan karena terlalu sering disuguhi kegaduhan yang tidak berujung pada penyelesaian. Padahal, di balik jabatan publik selalu ada amanah yang menunggu untuk ditunaikan. Rakyat sesungguhnya tidak meminta kesempurnaan. Mereka hanya berharap pekerjaan yang dijanjikan dapat dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Pembangunan berjalan. Perekonomian membaik. Lapangan kerja terbuka. Pendidikan semakin berkualitas. Pelayanan publik semakin mudah. Itulah yang ingin dilihat masyarakat.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.