Pemprov Jatim Perkuat Langkah JFC Menuju Panggung Pariwisata Dunia 27 Jul 2026 Kemenpar Tegaskan JFC Jadi Etalase Pariwisata Indonesia di Mata Dunia 27 Jul 2026 VISI | Sibuk 27 Jul 2026 Dari YouTube ke Timnas Malaysia, Mimpi Wan Kuzain Akhirnya Jadi Nyata 27 Jul 2026 Indonesia Bidik Awal Sempurna, Hadapi Kamboja di Laga Perdana ASEAN Hyundai Cup 2026 27 Jul 2026 Trailer Tabrak Dua Truk dan Motor di Pasuruan, Empat Tewas 27 Jul 2026 Fauzi Amro: DPR Siap Jalankan Fit and Proper Test Calon Gubernur BI 27 Jul 2026 Sistem Eror BPN Bandung Dikeluhkan Warga, Dinilai Buka Celah Praktik Pungli 27 Jul 2026 200 Personel Gabungan Siaga Pascabentrokan Maut di Menteng 27 Jul 2026 Senator Lia Istifhama Desak Polisi Tutup Tambang Pasir Ilegal di Blitar 27 Jul 2026 Pemprov Jatim Perkuat Langkah JFC Menuju Panggung Pariwisata Dunia 27 Jul 2026 Kemenpar Tegaskan JFC Jadi Etalase Pariwisata Indonesia di Mata Dunia 27 Jul 2026 VISI | Sibuk 27 Jul 2026 Dari YouTube ke Timnas Malaysia, Mimpi Wan Kuzain Akhirnya Jadi Nyata 27 Jul 2026 Indonesia Bidik Awal Sempurna, Hadapi Kamboja di Laga Perdana ASEAN Hyundai Cup 2026 27 Jul 2026 Trailer Tabrak Dua Truk dan Motor di Pasuruan, Empat Tewas 27 Jul 2026 Fauzi Amro: DPR Siap Jalankan Fit and Proper Test Calon Gubernur BI 27 Jul 2026 Sistem Eror BPN Bandung Dikeluhkan Warga, Dinilai Buka Celah Praktik Pungli 27 Jul 2026 200 Personel Gabungan Siaga Pascabentrokan Maut di Menteng 27 Jul 2026 Senator Lia Istifhama Desak Polisi Tutup Tambang Pasir Ilegal di Blitar 27 Jul 2026

VISI | Sibuk

Desi Rossilawati
Senin, 27 Juli 2026 | 17:50 WIB
Bagikan
VISI | Sibuk

Oleh: Drajat

• Guru

 

• Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung

• Wasekjen Komnasdik

• Master Hipnoterapis

• APKS PGRI Prov. Jabar

SETIAP hari Jumat, ada ruang kecil di sekolah yang selalu saya nantikan. Bukan ruang rapat yang megah, bukan pula aula yang dipenuhi tamu kehormatan. Hanya sebuah ruangan sederhana tempat para pengurus OSIS berkumpul. Di sanalah saya menyaksikan sebuah pemandangan yang, menurut saya, merupakan wajah pendidikan yang sesungguhnya.

Anak-anak itu datang dengan membawa buku catatan, agenda kegiatan, dan semangat yang nyaris tidak pernah habis. Mereka duduk melingkar. Tidak ada kursi paling tinggi. Tidak ada suara yang merasa paling benar. Yang ada hanyalah keinginan untuk membuat sekolah mereka menjadi lebih baik.

Agenda pertama hampir selalu sama: mengevaluasi program yang telah dilaksanakan. Mengapa kegiatan kemarin kurang maksimal? Mengapa peserta yang hadir tidak sesuai target? Apa yang harus diperbaiki? Siapa yang harus bertanggung jawab?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengalir tanpa rasa takut. Tidak ada yang sibuk mencari kambing hitam. Tidak ada yang sibuk menyembunyikan kesalahan. Tidak ada yang merasa harga dirinya jatuh hanya karena menerima kritik. Setelah evaluasi selesai, mereka beralih pada agenda berikutnya: menyusun program baru. Ide-ide bermunculan. Ada yang ingin mengadakan bakti sosial. Ada yang mengusulkan lomba literasi. Ada yang menginginkan pelatihan kepemimpinan. Ada pula yang mengusulkan gerakan menjaga kebersihan sekolah. 

Mereka berdebat. Mereka saling menyanggah. Mereka mempertahankan gagasan. Namun ketika keputusan diambil melalui musyawarah, semua kembali menjadi satu tim. Tidak ada yang meninggalkan rapat sambil membawa dendam. Tidak ada yang membuat kelompok tandingan. Tidak ada yang menyebarkan prasangka. Mereka berbeda pendapat, tetapi tetap memiliki tujuan yang sama. 

Saya sering pulang dari pertemuan OSIS dengan hati yang hangat. Sebab di ruangan kecil itulah saya melihat harapan. Namun, perasaan itu sering berubah ketika membuka media sosial, membaca berita, atau menyaksikan tayangan informasi. Di luar pagar sekolah, ruang publik dipenuhi berbagai polemik. Perdebatan politik yang berkepanjangan. Kasus korupsi yang silih berganti. Perselisihan antarelit. Saling menyalahkan. Saling membela kelompok. Belum selesai satu persoalan, muncul persoalan berikutnya. Belum tuntas satu janji, lahir janji yang baru. 

Masyarakat pun lelah. Bukan karena tidak mau mengikuti perkembangan. Melainkan karena terlalu sering disuguhi kegaduhan yang tidak berujung pada penyelesaian. Padahal, di balik jabatan publik selalu ada amanah yang menunggu untuk ditunaikan. Rakyat sesungguhnya tidak meminta kesempurnaan. Mereka hanya berharap pekerjaan yang dijanjikan dapat dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Pembangunan berjalan. Perekonomian membaik. Lapangan kerja terbuka. Pendidikan semakin berkualitas. Pelayanan publik semakin mudah. Itulah yang ingin dilihat masyarakat.

Sebagai guru, saya sering bertanya dalam hati. Mengapa anak-anak mampu begitu disiplin menjalankan program yang mereka susun sendiri, sementara dalam kehidupan publik kita kerap melihat energi yang lebih banyak habis untuk merespons konflik daripada menyelesaikan pekerjaan?

Tentu pertanyaan ini tidak ditujukan kepada semua penyelenggara negara. Banyak pejabat publik yang bekerja keras dengan integritas dan menghasilkan perubahan nyata. Namun kita juga tidak dapat menutup mata bahwa berbagai kasus penyalahgunaan wewenang, korupsi, dan konflik kepentingan terus menjadi perhatian masyarakat dari waktu ke waktu.

Laporan berbagai lembaga penegak hukum menunjukkan bahwa perkara korupsi masih terus ditangani setiap tahun. Di sisi lain, berbagai survei publik juga berkali-kali menunjukkan bahwa masyarakat menaruh harapan besar terhadap pemerintahan yang bersih, efektif, dan berorientasi pada pelayanan. Harapan itu sederhana: para pemimpin lebih banyak menyelesaikan pekerjaan daripada memperpanjang kegaduhan.

Ada satu pelajaran yang saya dapatkan dari OSIS. Setiap program harus memiliki tujuan. Setiap tujuan harus memiliki jadwal. Setiap jadwal harus dievaluasi. Setiap evaluasi harus menghasilkan perbaikan. Siklus itu terus berputar. Tidak berhenti pada pidato. Tidak berhenti pada slogan. Tidak berhenti pada pencitraan. Mereka memahami bahwa keberhasilan organisasi tidak diukur dari banyaknya rapat, tetapi dari banyaknya program yang benar-benar terlaksana dan memberi manfaat. Bukankah logika sederhana seperti ini juga relevan bagi penyelenggaraan negara?

Masyarakat tentu lebih merasakan manfaat ketika jalan diperbaiki, sekolah ditingkatkan mutunya, layanan kesehatan diperkuat, kesempatan kerja diperluas, dan ekonomi keluarga membaik, daripada terus-menerus menyaksikan perdebatan yang tidak menghasilkan solusi.

Saya sering tersenyum ketika melihat seorang Ketua OSIS meminta maaf di hadapan anggotanya karena ada kegiatan yang kurang berhasil. Kalimatnya sederhana. "Kami kurang maksimal. Minggu depan kami akan memperbaikinya." Tidak ada rasa malu. Tidak ada upaya menyalahkan orang lain. Justru dari keberanian mengakui kekurangan itulah lahir kepercayaan. Sayangnya, dalam kehidupan publik, budaya seperti ini belum selalu menjadi kebiasaan. Sering kali yang lebih mudah dilakukan adalah mencari alasan, menyalahkan keadaan, atau mengalihkan perhatian kepada persoalan lain. Padahal masyarakat justru menghargai pemimpin yang mampu berkata, "Kami akan memperbaikinya."

OSIS mengajarkan bahwa organisasi hidup karena program. Negara pun seharusnya hidup karena pelayanan. Organisasi kehilangan arah ketika lebih sibuk mempertahankan citra daripada bekerja. Negara juga menghadapi tantangan yang sama apabila energi lebih banyak dihabiskan untuk merespons kegaduhan daripada menyelesaikan persoalan rakyat. Kesibukan memang tidak selalu identik dengan produktivitas. Ada orang yang tampak sibuk sepanjang hari, tetapi pekerjaannya tidak pernah selesai. Ada pula yang bekerja tenang, namun hasilnya nyata. Masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar terlihat sibuk. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang menghadirkan solusi.

Di ruang OSIS, saya belajar bahwa pemimpin sejati bukan yang paling sering berbicara. Ia adalah yang paling bertanggung jawab terhadap keputusan bersama. Ia tidak menghindari evaluasi. Ia tidak alergi terhadap kritik. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai tameng. Ia memahami bahwa kepercayaan harus dijaga melalui tindakan. Bukankah pelajaran sederhana ini juga layak menjadi inspirasi bagi kehidupan berbangsa? Anak-anak itu masih belasan tahun. Mereka belum memiliki kekuasaan. Mereka belum mengelola anggaran besar. Namun mereka telah belajar bahwa setiap amanah harus dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, tulisan ini bukan hendak meninggikan OSIS dan merendahkan penyelenggara negara. Justru sebaliknya, saya ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai kepemimpinan yang kita tanamkan kepada peserta didik musyawarah, tanggung jawab, evaluasi, keberanian mengakui kekurangan, dan komitmen menjalankan program adalah nilai yang sama yang diharapkan masyarakat hadir dalam ruang publik. Sebab sesungguhnya rakyat tidak sedang menuntut hal yang muluk. Mereka hanya ingin melihat bahwa janji tidak berhenti sebagai kalimat dalam kampanye, tetapi berubah menjadi pekerjaan yang dirasakan manfaatnya.

Setiap Jumat saya melihat pengurus OSIS sibuk menyusun program, melaksanakan program, lalu mengevaluasi program. Kesibukan mereka melahirkan harapan. Semoga kesibukan di ruang-ruang pengambilan keputusan negeri ini juga semakin banyak diisi oleh semangat yang sama: bekerja, memperbaiki, dan menunaikan amanah. Karena sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa ramai perdebatan yang terjadi, melainkan dari seberapa banyak persoalan rakyat yang berhasil diselesaikan. Tanpa kita sadari, pelajaran tentang kepemimpinan yang paling jujur justru sedang berlangsung setiap hari Jumat, di sebuah ruang sederhana bernama rapat OSIS.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.