VISI | Sibuk
Sebagai guru, saya sering bertanya dalam hati. Mengapa anak-anak mampu begitu disiplin menjalankan program yang mereka susun sendiri, sementara dalam kehidupan publik kita kerap melihat energi yang lebih banyak habis untuk merespons konflik daripada menyelesaikan pekerjaan?
Tentu pertanyaan ini tidak ditujukan kepada semua penyelenggara negara. Banyak pejabat publik yang bekerja keras dengan integritas dan menghasilkan perubahan nyata. Namun kita juga tidak dapat menutup mata bahwa berbagai kasus penyalahgunaan wewenang, korupsi, dan konflik kepentingan terus menjadi perhatian masyarakat dari waktu ke waktu.
Laporan berbagai lembaga penegak hukum menunjukkan bahwa perkara korupsi masih terus ditangani setiap tahun. Di sisi lain, berbagai survei publik juga berkali-kali menunjukkan bahwa masyarakat menaruh harapan besar terhadap pemerintahan yang bersih, efektif, dan berorientasi pada pelayanan. Harapan itu sederhana: para pemimpin lebih banyak menyelesaikan pekerjaan daripada memperpanjang kegaduhan.
Ada satu pelajaran yang saya dapatkan dari OSIS. Setiap program harus memiliki tujuan. Setiap tujuan harus memiliki jadwal. Setiap jadwal harus dievaluasi. Setiap evaluasi harus menghasilkan perbaikan. Siklus itu terus berputar. Tidak berhenti pada pidato. Tidak berhenti pada slogan. Tidak berhenti pada pencitraan. Mereka memahami bahwa keberhasilan organisasi tidak diukur dari banyaknya rapat, tetapi dari banyaknya program yang benar-benar terlaksana dan memberi manfaat. Bukankah logika sederhana seperti ini juga relevan bagi penyelenggaraan negara?
Masyarakat tentu lebih merasakan manfaat ketika jalan diperbaiki, sekolah ditingkatkan mutunya, layanan kesehatan diperkuat, kesempatan kerja diperluas, dan ekonomi keluarga membaik, daripada terus-menerus menyaksikan perdebatan yang tidak menghasilkan solusi.
Saya sering tersenyum ketika melihat seorang Ketua OSIS meminta maaf di hadapan anggotanya karena ada kegiatan yang kurang berhasil. Kalimatnya sederhana. "Kami kurang maksimal. Minggu depan kami akan memperbaikinya." Tidak ada rasa malu. Tidak ada upaya menyalahkan orang lain. Justru dari keberanian mengakui kekurangan itulah lahir kepercayaan. Sayangnya, dalam kehidupan publik, budaya seperti ini belum selalu menjadi kebiasaan. Sering kali yang lebih mudah dilakukan adalah mencari alasan, menyalahkan keadaan, atau mengalihkan perhatian kepada persoalan lain. Padahal masyarakat justru menghargai pemimpin yang mampu berkata, "Kami akan memperbaikinya."
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!