VISI | Sehat itu Mahal

ED
Selasa, 21 Juli 2026 | 06:26 WIB
Bagikan
VISI | Sehat itu Mahal

Seseorang yang terkena penyakit kronis tidak hanya menghadapi biaya pengobatan, tetapi juga kehilangan produktivitas. Seorang pekerja harian yang harus menjalani perawatan tidak hanya kehilangan penghasilan, tetapi juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi dan kebutuhan keluarga.

Karena itu, biaya kesehatan tidak dapat dihitung hanya dari tagihan rumah sakit. Ada biaya ekonomi yang jauh lebih besar akibat seseorang tidak dapat bekerja karena sakit.

Indonesia dan Negara Tetangga

Persoalan biaya kesehatan Indonesia semakin terlihat ketika dibandingkan dengan beberapa negara Asia Tenggara.

Malaysia, misalnya, dikenal memiliki sistem layanan kesehatan publik dengan dukungan pemerintah yang kuat. Pemerintah Malaysia memberikan subsidi besar terhadap layanan kesehatan masyarakat sehingga biaya yang dibayar pasien relatif rendah.

Thailand juga memiliki pengalaman menarik melalui Universal Coverage Scheme yang membuat sebagian besar masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan dengan biaya yang lebih terjangkau.

Sementara itu, Singapura memang memiliki biaya kesehatan yang tinggi jika dibandingkan negara ASEAN lainnya. Namun, kondisi tersebut berjalan seiring dengan pendapatan masyarakat yang jauh lebih tinggi, sistem manajemen kesehatan yang efisien, serta mekanisme perlindungan seperti tabungan kesehatan dan subsidi pemerintah.

Brunei Darussalam memiliki pendekatan berbeda. Dengan dukungan pendapatan negara dari sektor energi, pemerintah mampu menyediakan layanan kesehatan publik dengan subsidi yang sangat besar kepada masyarakatnya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.