VISI | Sehat itu Mahal
Oleh Aep S. Abdullah
TIDAK banyak pejabat publik yang bersedia membuka persoalan besar di sektor yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam budaya birokrasi, mengakui kelemahan sistem sering dianggap sebagai membuka kegagalan institusi. Karena itu, pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengenai harga obat di Indonesia yang bisa tiga hingga lima kali lebih mahal dibanding Malaysia menjadi sebuah pengakuan penting.
Pernyataan tersebut bukan hanya soal mahalnya harga obat. Lebih jauh, pernyataan itu membuka persoalan yang selama ini dirasakan masyarakat: biaya untuk menjadi sehat di Indonesia masih terlalu mahal.
Bagi banyak keluarga Indonesia, sakit bukan hanya persoalan medis, tetapi juga persoalan ekonomi. Ketika seseorang jatuh sakit, yang dipikirkan bukan hanya bagaimana mendapatkan kesembuhan, tetapi juga bagaimana membayar biaya pengobatan, membeli obat, membayar pemeriksaan lanjutan, hingga menanggung kehilangan pendapatan akibat tidak dapat bekerja.
Kesehatan yang seharusnya menjadi hak dasar warga negara masih sering berubah menjadi beban finansial yang berat.
Obat Mahal, Sistem Bermasalah
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut perbedaan harga obat Indonesia dengan Malaysia bisa mencapai 300 persen hingga 500 persen. Menurutnya, perbedaan tersebut tidak mungkin hanya dijelaskan oleh faktor pajak. Persoalan utama berada pada inefisiensi tata niaga, rantai distribusi, mekanisme pembelian, dan tata kelola perdagangan obat.
Pernyataan ini penting karena selama ini masyarakat sering mendengar berbagai alasan mengenai mahalnya harga barang kesehatan. Mulai dari biaya impor, nilai tukar rupiah, biaya produksi, hingga pajak. Semua faktor tersebut memang memiliki pengaruh, tetapi tidak cukup menjelaskan mengapa perbedaan harga bisa mencapai beberapa kali lipat dibanding negara tetangga.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!