VISI | Sehat itu Mahal
Jika biaya obat di Indonesia jauh lebih mahal dibanding Malaysia, maka pertanyaan mendasarnya adalah: siapa yang sebenarnya menikmati selisih harga tersebut?
Apakah keuntungan tersebut berasal dari peningkatan kualitas layanan? Apakah berasal dari biaya distribusi yang memang tinggi? Atau justru akibat sistem perdagangan yang terlalu panjang sehingga setiap mata rantai menambahkan biaya baru?
Inilah persoalan yang harus dijawab pemerintah.
Obat bukan komoditas biasa. Berbeda dengan barang konsumsi lain yang dapat ditunda pembeliannya, obat berkaitan langsung dengan keselamatan manusia. Orang yang membutuhkan insulin, obat jantung, obat kanker, antibiotik, atau obat penyakit kronis tidak memiliki banyak pilihan. Mereka membeli karena membutuhkan.
Dalam kondisi seperti ini, pasar yang tidak efisien akan langsung berdampak kepada masyarakat.
Persoalan kesehatan Indonesia tidak hanya terlihat dari harga obat. Beban biaya kesehatan masyarakat juga terlihat dari masih tingginya pengeluaran langsung rumah tangga untuk layanan kesehatan.
Data kesehatan global menunjukkan bahwa pengeluaran kesehatan yang dibayar langsung oleh masyarakat atau out-of-pocket masih menjadi tantangan bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Meski program Jaminan Kesehatan Nasional melalui BPJS Kesehatan telah memperluas perlindungan, masih terdapat biaya yang harus ditanggung masyarakat untuk berbagai kebutuhan, seperti obat tertentu, layanan yang tidak ditanggung, pemeriksaan tambahan, transportasi, hingga biaya pendamping keluarga.
Bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, biaya tersebut dapat menjadi beban besar.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!