VISI | Menunggu Waktu

Desi Rossilawati
Sabtu, 5 September 2026 | 14:26 WIB
Bagikan
VISI | Menunggu Waktu

Di saat itulah manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. Apakah keputusan yang dibuat benar? Apakah ada orang yang dirugikan? Apakah ada amanah yang dikhianati? Apakah ada suara rakyat yang sengaja diabaikan? Pertanyaan semacam itu jauh lebih penting daripada ribuan pujian. Sebab kekuasaan paling berbahaya adalah kekuasaan yang membuat seseorang tidak lagi mampu bercermin.

Pemimpin yang sehat seharusnya tidak alergi terhadap kritik. Kritik yang berbasis fakta adalah cermin. Memang tidak semua kritik benar. Tetapi tidak semua kritik juga harus dibungkam. Pemimpin yang bijak mampu memilah. Jika kritik salah, jawab dengan data. Jika kritik benar, perbaiki. Jika kebijakan belum berhasil, evaluasi. Jika keputusan keliru, koreksi. Dan jika kesalahan memang terjadi, keberanian meminta maaf justru menunjukkan kebesaran jiwa. Inilah pendidikan kepemimpinan yang perlu diajarkan kepada anak-anak. Menjadi pemimpin bukan berarti tidak pernah salah. Menjadi pemimpin berarti bersedia bertanggung jawab ketika salah.

Pada akhirnya semua kembali kepada pendidikan. Kita ingin Generasi Emas 2045. Tetapi generasi emas tidak cukup diberi kecerdasan akademik. Mereka harus diberi karakter. Literasi. Numerasi. Kemampuan berpikir kritis. Kecakapan digital. Kesadaran ekologis. Empati. Kejujuran. Dan keberanian moral. Anak-anak harus belajar bahwa menjadi pemimpin bukan tentang mendapatkan kursi paling tinggi. Menjadi pemimpin adalah tentang memikul beban paling berat. Bukan paling banyak mendapatkan fasilitas. Tetapi paling siap mempertanggungjawabkan amanah. Jika konsep seperti ini tertanam sejak sekolah, kita sedang menyiapkan pemimpin masa depan yang berbeda. Pemimpin yang tidak mudah mabuk kekuasaan. Pemimpin yang tidak membutuhkan orang-orang yang selalu berkata "iya". Pemimpin yang bersedia mendengar. Pemimpin yang mampu mengatakan, "Penulis salah."

Kita tidak perlu menunggu bencana berikutnya untuk sadar bahwa lingkungan harus dijaga. Tidak perlu menunggu korban bertambah untuk memperbaiki tata kelola. Tidak perlu menunggu masyarakat kehilangan kepercayaan untuk memperbaiki komunikasi. Tidak perlu menunggu generasi muda kehilangan harapan untuk membenahi pendidikan. Dan pemimpin tidak perlu menunggu kehilangan jabatan untuk menyadari bahwa kekuasaan hanyalah sementara. Tuhan telah memberi manusia akal. Memberi ilmu. Memberi hati. Memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Maka gunakanlah semuanya sebelum waktu benar-benar habis. Sebab "menunggu waktu" yang paling menakutkan bukan menunggu pergantian kekuasaan. Bukan menunggu pemilu berikutnya. Bukan menunggu siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tetapi menunggu saat seluruh manusia berdiri sendiri-sendiri di hadapan Sang Khalik. Saat itu tidak ada partai. Tidak ada jabatan. Tidak ada kolega. Tidak ada pengikut. Tidak ada protokol. Tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanya manusia dan pertanggungjawabannya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.