VISI | Menunggu Waktu

Desi Rossilawati
Sabtu, 5 September 2026 | 14:26 WIB
Bagikan
VISI | Menunggu Waktu

Ada ironi yang membuat penulis miris. Ketika peserta didik melihat pemberitaan tentang tersangka korupsi yang ditampilkan mengenakan rompi tahanan, ada saja yang bercanda: "Pak, kalau korupsi nanti terkenal, ya?" Yang lain menyahut: "Bisa masuk televisi, Pak." Kemudian ada yang tertawa: "Malah bisa melambaikan tangan."

Kita mungkin menganggapnya sekadar kelakar anak-anak. Namun jangan dianggap sepele. Di balik candaan itu ada pertanyaan serius tentang nilai yang mereka tangkap dari realitas. Jika seseorang melakukan kejahatan tetapi tetap terlihat memiliki status, kekayaan, pengaruh, bahkan keberanian tampil di depan publik, anak-anak bisa mengalami kebingungan moral. Maka guru harus meluruskan. "Nak, jangan melihat orang dari seberapa sering dia muncul di televisi. Ukurlah manusia dari integritasnya." Kaya bukan ukuran keberhasilan. Jabatan bukan ukuran kemuliaan. Popularitas bukan ukuran kebenaran. Dan senyum seorang pejabat bukan bukti bahwa semua tindakannya benar.

Menunggu Waktu

Lalu apa yang dapat dilakukan ketika keadaan terasa begitu rumit? Di sinilah judul tulisan ini menemukan maknanya: Menunggu waktu. Bukan menunggu kehancuran. Bukan menunggu pembalasan. Apalagi berharap seseorang tertimpa musibah. Sama sekali bukan. Menunggu waktu berarti percaya bahwa dalam setiap perbuatan memiliki konsekuensi dan setiap amanah memiliki pertanggungjawaban.

Dalam perspektif agama, manusia boleh saja bersembunyi dari hukum manusia, tetapi tidak mungkin bersembunyi dari pengetahuan Tuhan. Jabatan dapat berakhir. Kekuasaan dapat berpindah. Pengikut dapat meninggalkan. Pujian dapat berhenti. Tetapi pertanggungjawaban kepada Allah tidak pernah mengenal masa jabatan. Karena itu, seorang pemimpin seharusnya takut bukan kepada kritik masyarakat, melainkan kepada kemungkinan bahwa dirinya menyalahgunakan amanah.

Sebagai seorang pendidik sekaligus praktisi hipnoterapi, penulis belajar satu hal penting: manusia dapat menyembunyikan sesuatu dari manusia lain, tetapi sulit menyembunyikan sesuatu dari suara hati sendiri. Ada malam-malam ketika seseorang sendirian. Tidak ada kamera. Tidak ada ajudan. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada bawahan yang mengatakan, "Siap, Pak."

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.