VISI | Menunggu Waktu
Oleh: Drajat
• Guru
• Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
• Wasekjen Komnasdik
• Master Hipnoterapis
ADA saatnya manusia terlalu sibuk menghitung kekuasaan sampai lupa menghitung tanda-tanda alam. Banjir datang. Gempa mengguncang. Kebakaran hutan meluas. Tanah longsor menelan rumah dan kehidupan. Masyarakat kehilangan tempat tinggal, kehilangan pekerjaan, bahkan kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Namun setelah semuanya berlalu, kita kembali kepada rutinitas. Berita berganti. Kamera berpindah. Pernyataan dikeluarkan. Lalu perlahan masyarakat kembali ditinggalkan dengan pertanyaan yang sama: apa yang sesungguhnya sedang terjadi dengan negeri ini? Sebagai seorang guru, pertanyaan itu terasa lebih berat ketika datang dari peserta didik. "Pak, mengapa alam seperti marah?"
Penulis tidak mungkin menjawab bahwa setiap bencana pasti merupakan hukuman Tuhan. Itu terlalu sederhana dan tidak adil bagi mereka yang menjadi korban. Bencana memiliki banyak sebab yang harus dikaji secara ilmiah: kondisi geologis, perubahan iklim, tata ruang, kerusakan lingkungan, hingga perilaku manusia. Tetapi sebagai manusia beriman, kita juga boleh membaca bencana sebagai alarm untuk melakukan introspeksi. Alam seolah berkata: berhentilah sejenak. Lihat kembali apa yang telah dilakukan. Periksa hutan. Periksa sungai. Periksa gunung. Periksa tata ruang. Dan yang paling penting, periksa hati manusia yang diberi amanah mengelola semuanya.
Alam tidak pernah berpidato di depan parlemen. Ia tidak pernah melakukan konferensi pers. Tidak pernah membuat slogan. Tetapi ketika hutan terbakar, asap berbicara. Ketika sungai meluap, air berbicara. Ketika tanah longsor, tanah berbicara. Ketika gempa mengguncang, bumi berbicara dengan bahasanya sendiri. Penulisngnya manusia sering kali lebih sibuk mendengarkan suara kekuasaan daripada suara alam. Padahal kerusakan lingkungan bukan persoalan satu pemerintahan atau satu generasi saja. Ia adalah utang yang diwariskan kepada anak cucu. Karena itu, pemimpin yang baik bukan hanya pemimpin yang mampu membuat program hari ini. Ia harus mampu berpikir puluhan tahun ke depan. Sebab anak-anak yang sekarang duduk di ruang kelas kelak akan menerima akibat dari keputusan yang kita buat hari ini.
Sebelum memperoleh jabatan, hampir semua pemimpin pandai berbicara tentang masa depan. Rakyat akan disejahterakan. Pendidikan akan diperbaiki. Lapangan pekerjaan akan diperluas. Lingkungan akan dijaga. Korupsi akan diberantas. Hukum akan ditegakkan. Keadilan akan diwujudkan. Kata-kata itu indah. Dan rakyat memang membutuhkan harapan. Namun masalahnya bukan pada janji. Masalahnya adalah jarak antara janji dan kenyataan. Di situlah kualitas kepemimpinan diuji. Pemimpin tidak dinilai hanya dari apa yang dikatakannya ketika meminta kepercayaan. Ia dinilai dari apa yang dilakukannya setelah kepercayaan diberikan.
Maka tidak berlebihan jika masyarakat bertanya: Apa yang sudah berubah? Apa yang sudah diperbaiki? Siapa yang mendapatkan manfaat? Siapa yang masih tertinggal? Dan jika ternyata kebijakan tidak berjalan sebagaimana mestinya, apakah pemimpin bersedia mengakui kekurangannya? Pertanyaan seperti itu bukan pembangkangan. Itulah demokrasi yang sehat.
Penulis bisa menghindari berita politik ketika berada di rumah. Tetapi guru tidak mungkin menghindari pertanyaan peserta didik. Mereka hidup di zaman ketika informasi berada di telapak tangan. Mereka melihat video. Membaca berita. Mendengar podcast. Mengikuti media sosial. Mereka tahu ketika masyarakat marah. Mereka tahu ketika terjadi bencana. Mereka tahu ketika seorang pejabat menjadi perbincangan. Dan kemudian mereka bertanya kepada gurunya.
"Pak, negara sebenarnya ada di mana?"
Pertanyaan itu sederhana. Tetapi sesungguhnya sangat dalam. Guru harus menjawab tanpa menjadi provokator. Guru harus kritis tanpa menanamkan kebencian. Guru harus memberikan kenyataan tanpa membunuh harapan. Maka jawaban penulis sederhana: "Negara ada bersama kita. Dan kalian kelak adalah bagian dari negara ini. Karena itu, belajarlah menjadi manusia yang lebih baik daripada keadaan yang kalian lihat hari ini."
Jangan ajari anak menjadi sinis. Ini yang sering dilupakan. Ketika orang dewasa kecewa kepada negara, jangan sampai kekecewaan itu diwariskan menjadi sinisme kepada anak-anak. Anak-anak tidak boleh tumbuh dengan keyakinan bahwa kejujuran tidak berguna. Jangan sampai mereka menyimpulkan bahwa korupsi adalah jalan cepat menjadi kaya. Jangan sampai mereka berpikir bahwa kekuasaan selalu berarti kesempatan mengambil keuntungan. Jangan sampai mereka percaya bahwa orang baik pasti kalah. Justru di sinilah pendidikan harus mengambil peran. Kita boleh mengatakan bahwa korupsi adalah kejahatan. Kita boleh mengatakan bahwa penyalahgunaan kekuasaan harus dikritik. Kita boleh mengatakan bahwa pemimpin harus bertanggung jawab. Tetapi setelah itu kita harus menambahkan satu kalimat, "Kalian jangan menjadi seperti itu." Sebab pendidikan bukan sekadar menjelaskan keburukan zaman. Pendidikan harus mempersiapkan manusia untuk memperbaikinya.
Ada ironi yang membuat penulis miris. Ketika peserta didik melihat pemberitaan tentang tersangka korupsi yang ditampilkan mengenakan rompi tahanan, ada saja yang bercanda: "Pak, kalau korupsi nanti terkenal, ya?" Yang lain menyahut: "Bisa masuk televisi, Pak." Kemudian ada yang tertawa: "Malah bisa melambaikan tangan."
Kita mungkin menganggapnya sekadar kelakar anak-anak. Namun jangan dianggap sepele. Di balik candaan itu ada pertanyaan serius tentang nilai yang mereka tangkap dari realitas. Jika seseorang melakukan kejahatan tetapi tetap terlihat memiliki status, kekayaan, pengaruh, bahkan keberanian tampil di depan publik, anak-anak bisa mengalami kebingungan moral. Maka guru harus meluruskan. "Nak, jangan melihat orang dari seberapa sering dia muncul di televisi. Ukurlah manusia dari integritasnya." Kaya bukan ukuran keberhasilan. Jabatan bukan ukuran kemuliaan. Popularitas bukan ukuran kebenaran. Dan senyum seorang pejabat bukan bukti bahwa semua tindakannya benar.
Menunggu Waktu
Lalu apa yang dapat dilakukan ketika keadaan terasa begitu rumit? Di sinilah judul tulisan ini menemukan maknanya: Menunggu waktu. Bukan menunggu kehancuran. Bukan menunggu pembalasan. Apalagi berharap seseorang tertimpa musibah. Sama sekali bukan. Menunggu waktu berarti percaya bahwa dalam setiap perbuatan memiliki konsekuensi dan setiap amanah memiliki pertanggungjawaban.
Dalam perspektif agama, manusia boleh saja bersembunyi dari hukum manusia, tetapi tidak mungkin bersembunyi dari pengetahuan Tuhan. Jabatan dapat berakhir. Kekuasaan dapat berpindah. Pengikut dapat meninggalkan. Pujian dapat berhenti. Tetapi pertanggungjawaban kepada Allah tidak pernah mengenal masa jabatan. Karena itu, seorang pemimpin seharusnya takut bukan kepada kritik masyarakat, melainkan kepada kemungkinan bahwa dirinya menyalahgunakan amanah.
Sebagai seorang pendidik sekaligus praktisi hipnoterapi, penulis belajar satu hal penting: manusia dapat menyembunyikan sesuatu dari manusia lain, tetapi sulit menyembunyikan sesuatu dari suara hati sendiri. Ada malam-malam ketika seseorang sendirian. Tidak ada kamera. Tidak ada ajudan. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada bawahan yang mengatakan, "Siap, Pak."
Di saat itulah manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. Apakah keputusan yang dibuat benar? Apakah ada orang yang dirugikan? Apakah ada amanah yang dikhianati? Apakah ada suara rakyat yang sengaja diabaikan? Pertanyaan semacam itu jauh lebih penting daripada ribuan pujian. Sebab kekuasaan paling berbahaya adalah kekuasaan yang membuat seseorang tidak lagi mampu bercermin.
Pemimpin yang sehat seharusnya tidak alergi terhadap kritik. Kritik yang berbasis fakta adalah cermin. Memang tidak semua kritik benar. Tetapi tidak semua kritik juga harus dibungkam. Pemimpin yang bijak mampu memilah. Jika kritik salah, jawab dengan data. Jika kritik benar, perbaiki. Jika kebijakan belum berhasil, evaluasi. Jika keputusan keliru, koreksi. Dan jika kesalahan memang terjadi, keberanian meminta maaf justru menunjukkan kebesaran jiwa. Inilah pendidikan kepemimpinan yang perlu diajarkan kepada anak-anak. Menjadi pemimpin bukan berarti tidak pernah salah. Menjadi pemimpin berarti bersedia bertanggung jawab ketika salah.
Pada akhirnya semua kembali kepada pendidikan. Kita ingin Generasi Emas 2045. Tetapi generasi emas tidak cukup diberi kecerdasan akademik. Mereka harus diberi karakter. Literasi. Numerasi. Kemampuan berpikir kritis. Kecakapan digital. Kesadaran ekologis. Empati. Kejujuran. Dan keberanian moral. Anak-anak harus belajar bahwa menjadi pemimpin bukan tentang mendapatkan kursi paling tinggi. Menjadi pemimpin adalah tentang memikul beban paling berat. Bukan paling banyak mendapatkan fasilitas. Tetapi paling siap mempertanggungjawabkan amanah. Jika konsep seperti ini tertanam sejak sekolah, kita sedang menyiapkan pemimpin masa depan yang berbeda. Pemimpin yang tidak mudah mabuk kekuasaan. Pemimpin yang tidak membutuhkan orang-orang yang selalu berkata "iya". Pemimpin yang bersedia mendengar. Pemimpin yang mampu mengatakan, "Penulis salah."
Kita tidak perlu menunggu bencana berikutnya untuk sadar bahwa lingkungan harus dijaga. Tidak perlu menunggu korban bertambah untuk memperbaiki tata kelola. Tidak perlu menunggu masyarakat kehilangan kepercayaan untuk memperbaiki komunikasi. Tidak perlu menunggu generasi muda kehilangan harapan untuk membenahi pendidikan. Dan pemimpin tidak perlu menunggu kehilangan jabatan untuk menyadari bahwa kekuasaan hanyalah sementara. Tuhan telah memberi manusia akal. Memberi ilmu. Memberi hati. Memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Maka gunakanlah semuanya sebelum waktu benar-benar habis. Sebab "menunggu waktu" yang paling menakutkan bukan menunggu pergantian kekuasaan. Bukan menunggu pemilu berikutnya. Bukan menunggu siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tetapi menunggu saat seluruh manusia berdiri sendiri-sendiri di hadapan Sang Khalik. Saat itu tidak ada partai. Tidak ada jabatan. Tidak ada kolega. Tidak ada pengikut. Tidak ada protokol. Tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanya manusia dan pertanggungjawabannya.
Cahaya itu Masih Ada
Maka kepada peserta didik, penulis ingin berkata: Jangan takut melihat keadaan. Jangan pula membencinya. Belajarlah. Bacalah. Berpikirlah. Bertanyalah. Kritislah dengan santun. Jujurlah meskipun tidak ada yang melihat. Dan jika suatu hari kalian diberi amanah menjadi pemimpin, ingatlah bahwa manusia yang kalian pimpin bukan angka dalam laporan. Mereka adalah manusia. Mereka punya keluarga. Mereka punya harapan. Mereka punya air mata. Dan mereka menitipkan masa depan kepada kalian. Jangan khianati kepercayaan itu.
Negeri ini memang sedang membutuhkan jeda. Jeda untuk berpikir. Jeda untuk bercermin. Jeda untuk mengakui kesalahan. Jeda untuk kembali kepada nilai-nilai yang dahulu kita sepakati sebagai bangsa. Alam sudah memberikan banyak alarm. Masyarakat sudah banyak berbicara. Guru masih terus mengajar. Orang tua masih terus berdoa. Dan anak-anak masih datang ke sekolah membawa mimpi. Mereka adalah alasan mengapa kita tidak boleh menyerah.
Maka biarlah kita menunggu waktu, tetapi sembari terus bekerja. Menunggu waktu sambil memperbaiki pendidikan. Menunggu waktu sambil menjaga lingkungan. Menunggu waktu sambil membangun karakter. Menunggu waktu sambil mengajarkan kejujuran. Menunggu waktu sambil melahirkan pemimpin yang amanah. Sebab kita tidak pernah tahu kapan perubahan itu datang.
Yang pasti, setiap zaman akan meninggalkan catatan. Dan kelak anak cucu kita akan membaca catatan itu. Semoga mereka tidak bertanya: "Mengapa orang-orang dahulu diam ketika melihat kesalahan?" Semoga mereka justru berkata: "Beruntung, masih ada guru yang tetap menyalakan cahaya ketika keadaan sedang gelap."
Pada akhirnya, kita semua sedang menunggu waktu. Waktu ketika kekuasaan berganti. Waktu ketika kebenaran menemukan jalannya. Waktu ketika manusia diminta mempertanggungjawabkan amanahnya. Dan waktu ketika kita menyadari bahwa tidak ada satu pun kekuasaan di dunia yang benar-benar abadi. Yang abadi hanyalah Tuhan. Dan kepada-Nya pula, pada akhirnya, seluruh amanah akan kembali.**
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!