VISI | Menunggu Waktu

Desi Rossilawati
Sabtu, 5 September 2026 | 14:26 WIB
Bagikan
VISI | Menunggu Waktu

Penulis tidak mungkin menjawab bahwa setiap bencana pasti merupakan hukuman Tuhan. Itu terlalu sederhana dan tidak adil bagi mereka yang menjadi korban. Bencana memiliki banyak sebab yang harus dikaji secara ilmiah: kondisi geologis, perubahan iklim, tata ruang, kerusakan lingkungan, hingga perilaku manusia. Tetapi sebagai manusia beriman, kita juga boleh membaca bencana sebagai alarm untuk melakukan introspeksi. Alam seolah berkata: berhentilah sejenak. Lihat kembali apa yang telah dilakukan. Periksa hutan. Periksa sungai. Periksa gunung. Periksa tata ruang. Dan yang paling penting, periksa hati manusia yang diberi amanah mengelola semuanya.

Alam tidak pernah berpidato di depan parlemen. Ia tidak pernah melakukan konferensi pers. Tidak pernah membuat slogan. Tetapi ketika hutan terbakar, asap berbicara. Ketika sungai meluap, air berbicara. Ketika tanah longsor, tanah berbicara. Ketika gempa mengguncang, bumi berbicara dengan bahasanya sendiri. Penulisngnya manusia sering kali lebih sibuk mendengarkan suara kekuasaan daripada suara alam. Padahal kerusakan lingkungan bukan persoalan satu pemerintahan atau satu generasi saja. Ia adalah utang yang diwariskan kepada anak cucu. Karena itu, pemimpin yang baik bukan hanya pemimpin yang mampu membuat program hari ini. Ia harus mampu berpikir puluhan tahun ke depan. Sebab anak-anak yang sekarang duduk di ruang kelas kelak akan menerima akibat dari keputusan yang kita buat hari ini.

Sebelum memperoleh jabatan, hampir semua pemimpin pandai berbicara tentang masa depan. Rakyat akan disejahterakan. Pendidikan akan diperbaiki. Lapangan pekerjaan akan diperluas. Lingkungan akan dijaga. Korupsi akan diberantas. Hukum akan ditegakkan. Keadilan akan diwujudkan. Kata-kata itu indah. Dan rakyat memang membutuhkan harapan. Namun masalahnya bukan pada janji. Masalahnya adalah jarak antara janji dan kenyataan. Di situlah kualitas kepemimpinan diuji. Pemimpin tidak dinilai hanya dari apa yang dikatakannya ketika meminta kepercayaan. Ia dinilai dari apa yang dilakukannya setelah kepercayaan diberikan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.