VISI | Konveksi Pesantren: Santri Berkarya, Ekonomi Berdaya
Oleh Nuslih Jamiat
Meraih Pasar Triliun Rupiah Fashion Muslim Dunia
DI TENGAH gelombang pertumbuhan industri fashion muslim global yang diprediksi mencapai USD 428 miliar (sekitar Rp 6.840 triliun) pada tahun 2027, pesantren di Indonesia memiliki peluang emas yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia dan menempati peringkat ketiga ekosistem fashion muslim dunia setelah Turki dan Malaysia, Indonesia—khususnya pesantren—seharusnya menjadi pemain utama dalam industri ini.
Namun realitasnya, ekspor fashion muslim Indonesia baru mencapai USD 2,85 miliar pada semester pertama tahun 2022, masih jauh tertinggal dari China, Turki, dan India. Padahal, pesantren dengan lebih dari 42.433 lembaga dan jutaan santri di seluruh Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia yang luar biasa—banyak di antaranya terampil dalam jahit-menjahit dan konveksi.
"Ini peluang yang sangat besar. Fashion muslim bukan lagi pasar niche, tapi sudah menjadi pasar mainstream global," ujar Dr. Siti Mahmudah, peneliti ekonomi pesantren dari Universitas IndonesiaL
1. Pasar Global yang Menggiurkan
Menurut Laporan Status Ekonomi Islam Global 2022 DinarStandard, pengeluaran global untuk modest wear dan industri fashion muslim diperkirakan mencapai USD 375 miliar pada tahun 2025, dengan laju pertumbuhan 6,1% per tahun. Laporan State of Global Islamic Economy 2023-2024 bahkan memprediksi konsumsi fashion muslim dunia mencapai USD 428 miliar pada 2027.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita, menyatakan bahwa sektor fashion muslim menempati posisi kedua tertinggi dalam ekonomi Islam global, hampir 15% dari total USD 3,1 triliun proyeksi pengeluaran konsumen muslim terhadap enam sektor komoditas pada 2027.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!