Sukamiskin Sulap Sampah Jadi Energi, 70 Persen Timbulan Dituntaskan di Kelurahan
Fasilitas dapat dikembangkan tanpa harus mengorbankan ruang pengolahan yang sudah berjalan. Area yang tersisa juga memungkinkan penambahan fasilitas baru apabila kebutuhan meningkat.
Sofian berharap seluruh fasilitas yang telah dirancang dapat beroperasi secara optimal. Dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan berbagai pihak diharapkan dapat mempercepat pengembangan fasilitas baru.
Targetnya, fasilitas pengolahan baru dapat mulai beroperasi pada akhir 2026 atau paling lambat awal 2027.
"Kalau peyeumisasi sampah sudah berjalan dan plasma dingin kembali beroperasi, kita bahkan bisa menerima sampah dari kelurahan lain. Secara hitungan, kapasitas pengolahan kita bisa lebih besar dari timbulan sampah warga Sukamiskin," tuturnya.
Dari Kebiasaan Kecil Menuju Sistem Besar
Apa yang dibangun di Sukamiskin pada dasarnya berangkat dari perubahan kebiasaan sederhana: memilah sampah sebelum membuangnya.
Dari rumah, sampah organik diarahkan untuk diolah menggunakan komposter atau maggot. Sampah nonorganik dikumpulkan dan diproses melalui fasilitas pengolahan. Sementara residu dipisahkan agar tidak bercampur dengan material yang masih memiliki nilai guna.
Dari rumah, sistem bergerak ke tingkat RW. Dari RW, sampah yang membutuhkan kapasitas lebih besar diarahkan ke fasilitas kelurahan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!