Sukamiskin Sulap Sampah Jadi Energi, 70 Persen Timbulan Dituntaskan di Kelurahan
Penguatan dilakukan hingga tingkat RW. Dari total 17 RW di Kelurahan Sukamiskin, masing-masing minimal memiliki dua unit tempat pengolahan berbasis komposter. Bahkan, sejumlah RW telah memiliki hingga lima unit.
Keberadaan fasilitas tersebut membuat sampah organik dapat diolah lebih dekat dengan sumbernya. Dengan demikian, tidak semua sampah harus dikumpulkan dan diangkut menuju TPS.
Konsep ini sekaligus memperpendek rantai pengelolaan sampah. Sampah yang bisa selesai di rumah diolah di rumah. Sampah yang membutuhkan fasilitas lebih besar dapat ditangani di tingkat RW atau kelurahan.
Di tingkat kelurahan, pengolahan kemudian diperluas untuk menangani sampah nonorganik.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah peyeumisasi sampah. Sukamiskin kini memiliki enam unit mesin yang dipersiapkan untuk mengolah sampah nonorganik menjadi bahan bakar alternatif berupa briket.
Proses pengolahannya dilakukan melalui sejumlah tahapan. Sampah nonorganik terlebih dahulu dimasukkan ke dalam wadah pengolahan. Material tersebut kemudian ditumpuk secara bertahap dengan ketebalan sekitar 20 sentimeter dan diberikan bioaktivator.
Penumpukan dilakukan berulang hingga mencapai ketinggian sekitar 1,2 meter. Setelah itu, material dikeringkan sedikitnya selama tujuh hari.
Sampah yang telah kering kemudian masuk ke tahap penggilingan. Penggilingan dilakukan secara bertahap, mulai dari proses kasar hingga penggilingan halus.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!