REFLEKSI | Maksimalitas Cinta Ibrahim, Minimalitas Cinta Manusia Zaman Kini dalam Berqurban
Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Si.
JUDUL yang panjang di atas, perlu tertulis tiga baris berjajar saja sudah sangat mengindikasikan, adanya hal yang terlalu berlebihan, dalam melihat aspek semangat. Berkurbannya manusia zaman kini, yang ingin katanya mau meniru keikhlasan Nabi Ibrahim, saat dititah Allah untuk membuktikan cintanya, yang tak mendua, antara Ismail sebagai anak, dan Allah sebagai Tuhan yang Ibrahim cinta.
Jika Ibrahim dititah Allah untuk membuktikan cintanya pada Tuhan !! Manusia sekarang hanya diminta membuktikan ikhlasnya pada panitia kurban.
Coba kita lihat, sanggupkah ia ikhlas !! Lagi lagi semua kita diuji dengan kualitas ujian ikhlas yang berbeda !
Tak mengitung lama, kita akan merayakan hari Raya iIdul Adha.
Hari bergembiranya umat Muslim, atas peristiwa ujian Allah pada Nabi Ibrahim, yang berhasil dilewati, sebagai bukti ketulusan cintanya.
Sehingga seluruh umat sedunia, (Umat Islam ini), merayakan kelulusan ujian Allah pada Ibrahim tersebut...dengan bersuka cita, bisa merasakan makan-makan lezat, bakar-bakar daging, sampai terbangun tradisi baru dalam khazanah umat ini, yakni tradisi makan sate....
Subhanallah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!