Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang
Ilustrasi. /visi.news/ist
VISI.NEWS – Sejumlah organisasi perlindungan satwa mengecam keras kembali munculnya kuota ekspor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dari Indonesia untuk kebutuhan penelitian dan uji laboratorium. Mereka mendesak pemerintah segera menghentikan ekspor primata tersebut, memperkuat perlindungan hukum, serta beralih mendukung metode penelitian modern yang tidak lagi bergantung pada penggunaan hewan.
Koalisi yang terdiri atas Action for Primates, Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Natha Satwa Nusantara (NSN), Animal Lawyer Indonesia (ALI), Lady Freethinker (LFT), Animal Friends Jogja (AFJ), dan Animals Don’t Speak Human (ADSH) menyampaikan protes setelah Organisasi Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) mencatat kuota ekspor sebanyak 1.928 ekor monyet ekor panjang dari Indonesia pada Juni 2026.
Kuota tersebut menjadi yang pertama kali tercatat sejak 2022 dan memicu kekhawatiran akan meningkatnya kembali eksploitasi terhadap primata asli Indonesia yang selama ini menjadi salah satu spesies paling banyak digunakan dalam uji toksisitas di berbagai laboratorium dunia.
Sarah Kite, Co-founder Action for Primates, menyatakan bahwa kembalinya ekspor monyet ekor panjang merupakan perkembangan yang sangat mengkhawatirkan.
Menurutnya, eksploitasi terhadap satwa tersebut tidak hanya mengancam kelangsungan populasinya, tetapi juga bertentangan dengan perkembangan kebijakan dan ilmu pengetahuan internasional yang mulai meninggalkan penggunaan primata non-manusia dalam penelitian maupun pengujian racun.
"Sudah sejak lama dibutuhkan tindakan dari Pemerintah Indonesia untuk melindungi populasi monyet ekor panjang," ujar Sarah Kite.
Senada dengan itu, Co-founder Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Femke den Haas, menilai kebijakan tersebut merupakan langkah mundur dalam perlindungan satwa liar di Indonesia.
Ia mengatakan, ketika berbagai negara justru memperkuat perlindungan terhadap monyet ekor panjang, lemahnya perlindungan terhadap spesies asli Indonesia yang paling sering dieksploitasi justru dinilai mengancam kesejahteraan hewan, upaya konservasi, hingga reputasi Indonesia di tingkat internasional.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!