REFLEKSI | Maksimalitas Cinta Ibrahim, Minimalitas Cinta Manusia Zaman Kini dalam Berqurban

ED
Sabtu, 9 Juli 2022 | 09:19 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Maksimalitas Cinta Ibrahim, Minimalitas Cinta Manusia Zaman Kini dalam Berqurban

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Si.

JUDUL yang panjang di atas, perlu tertulis tiga baris berjajar saja sudah sangat mengindikasikan, adanya hal yang terlalu berlebihan, dalam melihat aspek semangat. Berkurbannya manusia zaman kini, yang ingin katanya mau meniru keikhlasan Nabi Ibrahim, saat dititah Allah untuk membuktikan cintanya, yang tak mendua, antara Ismail sebagai anak, dan Allah sebagai Tuhan yang Ibrahim cinta.

Jika Ibrahim dititah Allah untuk membuktikan cintanya pada Tuhan !! Manusia sekarang hanya diminta membuktikan ikhlasnya pada panitia kurban.

Coba kita lihat, sanggupkah ia ikhlas !! Lagi lagi semua kita diuji dengan kualitas ujian ikhlas yang berbeda !

Tak mengitung lama, kita akan merayakan hari Raya iIdul Adha.

Hari bergembiranya umat Muslim, atas peristiwa ujian Allah pada Nabi Ibrahim, yang berhasil dilewati, sebagai bukti ketulusan cintanya.

Sehingga seluruh umat sedunia, (Umat Islam ini), merayakan kelulusan ujian Allah pada Ibrahim tersebut...dengan bersuka cita, bisa merasakan makan-makan lezat, bakar-bakar daging, sampai terbangun tradisi baru dalam khazanah umat ini, yakni tradisi makan sate....

Subhanallah.

Mereka merayakan hari raya kurban, Idul Adha, tentunya dengan berduyun-duyun ikut berkurban, menyembelih hewan ternaknya, baik yang terkecil domba, sampai yang terbesar sapi atau unta, binatang khas negeri padang pasir.

Beberapa yang jadi catatan penulis setelah mengobrol bersama Abah Asep Oman - loyalis Gus Yahya dari Pangalengan Kab. Bandung - yang mencoba mengkritisi tata cara menyikapi berkurbannya saudara saudara Muslim di kita, adalah :

1. Umat khususnya panitia, belum terjaga keikhlasannya, dalam mengelola pemotongan kurban, dengan baik. Terbukti, pencatatan tidak dilakukan dengan profesional, sehingga, panitia kurban, tidak harus sampai kehilangan bagian ekor, kanjut sapi atau domba, bagian ceker, bahkan bagian kepala domba, maupun sapi, termasuk juga sampai pada kulit-kulitnya.

Mungkin bagian ini sering lenyap, karena dianggap bagian yang tidak penting dalam pembagian daging yang baik, dari panitia qurban pada masyarakat penerimanya.

Yang jelas, warung ceker sapi, warung sop buntut, warung sop kepala sapi, atau domba, sangat laris manis, tanjung kimpul.

Tak seperti pikiran panitia qurban!! yang menganggap bagian ini tak penting!! Dianggap sebelah mata, dan tak jadi bagian yang ikut dibagikan

Justru bagian ini, bagian paling favorit hehehe.

Setelah penulisan, penulis kaji baru tersadar !!

Awas jangan sampai hilang tanpa bekas, untuk bagian-bagian favorit itu, semua bagian adalah amanah panitia dalam mengelola kurban, apapun bagian dagingnya, jangan sampai tidak tercatat. Atau ada sebagian, bagian yang dihilangkan (diambil seseorang untuk mendapat keuntungan pribadi).

2. Hal berikutnya, tukang jagal potong, usahakan bagian dari panitia itu sendiri, belajarlah motong dengan benar !! Bagaimana caranya ? Berpikirlah !! (Bisa lihat dulu dari YouTube, bertanya tanya pada tetangga, teman, atau kerabat yang bisa memotong)

Dan berani mencoba belajar memotong !! Insyaallah akan ada kebaikan, dan akan menjadi pengalaman seru jika mau mencoba.

Kapan saatnya? Yaa...pada saat perayaan hari raya Iedul Adha itulah masa praktek langsungnya.

Awas, memotong binatang kurban, jangan oleh orang di luar panitia, sehingga tak sampai ke luar, adanya jatah kepala, atau kulit kepada orang lain.

Persiapkan pisau potongnya, yang sangat tajam, dan kuat.

Kelola semuanya secara profesional dulu. Jika kesulitan, baru minta bantuan pihak dari luar panitia. Bayar dengan ongkos potong yang uangnya sudah di persiapkan pemilik kurban, bukan dana kas masjid.

3. Lengkapi sarana kurbannya selengkap mungkin. Dari papan pengumuman, yang menuliskan nama nama para pengurban 3/4 hari sebelum hari H nya, nama para pengurban sudah tertulis siapa-siapanya.

Kelengkapan lainnya, tempat tambat hewan, terpal pelindung terik, dan tempat pemotongannya, serta tempat cacag dagingnya, serta tempat ember ember penampung daging, kiloan penimbang, plastik bungkus daging, plus kreseknya, yang terakhir catatan per RT siapa saja para mustahik penerimanya.

4. Para pemilik qurban pun jika niatnya sudah bulat, tidak lantas hanya memberi kurbannya saja, bantu juga panitia yang sudah mengurus pemotongan hewannya, dan membantu sampai pendistribusiannya itu dengan, memberi uang lebih, secukupnya, dan sewajarnya, karena ada lelah yang panitia rasa.

Ingat jangan sampai kas masjid, lagi lagi terpakai dalam hal ini. Jika ada kesepahaman bahwa berkurban itu harus memperhatikan detail lainnya, ini akan membantu sekali kepanitiaan.

5.Pendistribusian kurban. Hal ini harus jadi ajang mendidik umat. Panitia bagusnya bisa buat spanduk, atau menulis di papan tulis.

Siapa-siapa yang layak menerima, bagaimana daging kurban di distribusikan...!! (Ada kerja sama antar RW, sampai tingkat kelurahan, atau kecamatan, atau lembaga, ini akan sangat baik.)

Jam berapa daging di distribusikan, sehingga masyarakat tahu, dan bisa membaca informasi itu, yang membuat mereka tenang, siap menerima daging bagiannya dengan senang, tanpa antri antri bagai cari jatah makan seperti di jaman perang.

Sehingga tak berkerumun orang orang berlomba ingin mendapatkan jatah daging kurban berkali-kali, yang mereka lakukan, dengan sengaja mendatangi tempat tempat pemotongan.

Dalam berkurban, kita benar-benar diuji bentuk keikhlasan kita seperti Nabi Ibrahim.

Perlu berpikir luar biasa cerdas, tak hanya sampai tingkatan puas kita, dengan bisa menyediakan hewan kurban kita pada panitia.

Hal ikhlas lainnya yang menyertai kita berkurban adalah, kematangan pemahaman kita yang baik, di atas rata rata manusia biasanya. Sebab Allah menyenangi manusia tulus yang paling terbaik dalam berkurbannya...

Khususnya dalam:

1. Mencari hewan terbaik, jauhi yang penyakitan.

2. Menyediakan uang lebih sebagai upah potong, uang roko, dan uang makan panitia.

3. Baiknya uji kwalitas iman kita, uji karakter diri kita, uji seluruh niatan kita, walaupun ada jatah 1/3 bagian dari kurban, bukan berarti kita memesan pada panitia misal, meminta jatah paha, atau bagian baik lainnya, dari kurban yang kita berikan...

Ihlaskan saja seluruhnya!! Jangan ambil bagian !! Kalau pun mau, ambil yang sama, seperti apa yang sudah di persiapkan panitia... Dan yang lebih luar biasa, beli saja di swalayan, 1/2 kilo daging yang kita mau, jangan ambil 1/3 daging kurban, walau ada jatah kita di sana.

Kalau pun kita ada jatah 1/3 bukan berarti juga itu buat kita seluruhnya.

Itu buat kita bagikan sendiri, di bagikan lagi, barangkali ada teman yang tahu bahwa kita sedang berkurban, saat mereka datang, jatah 1/3 itu, untuk bagian kita bisa memberi!!

Alhamdulillah.

Ingat.....1/3 itu bagian kita yang dengan senang hati kita bagikan kembali, baik itu pada para sahabat, kerabat, yang mendengar dan datang sengaja kepada kita, minta jatah daging dari kurban yang kita lakukan.

Alhamdulillah, ini sesungguhnya wujud rasa besarnya karakter diri kita, bisa bermanfaat bagi orang sekitar, dan yang kita kenal.

Sahabat, berkurban itu sulit menghindarkan diri kita dari ria, dari tamak, dari sombong...dan dari kadar ikhlas yang sebenarnya, yang merupakan wujud, bentuk dari keimanan kita, dengan pemahaman yang lurus!!

Ketika Ibrahim di uji taqwanya, imannya, dan ke ikhlasannya. Kita hanya diuji oleh ego kita, dan nafsu kita, belum sampai pada tingkatan diuji Tuhan.

Cirinya, jika kita berkurban lalu muncul rasa sombong, ujub, takabur, tamak, mengharap daging 1/3 itu, walau itu bagian kita, sudah pasti hancur itu dari sekedar baru niatnya saja, perihal kadar ikhlas kita itu.

Bagaimana kita persembahkan kurban terbaik kita ? Seperti Allah yang akhirnya Menganti kurban Ibrahim, dari Ismail mengurbankan dirinya, dan diganti domba terbaik.

Begitupun kita, mengorbankan nafsu kita, untuk tak menerima 1/3 bagian yang memang hak kita, diganti dengan membeli daging sendiri, di swalayan, atau pasar, sebagai bagian cara kita mendidik diri, membangun keikhlasan, menumbuhkan karakter yang Allah senangi.

Alhamdulillah.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.