Qanun Asasi Gus Kikin dan Warisan Pemikiran Hasyim Asy’ari
VISI.NEWS — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mulai mempersiapkan kepengurusan PBNU masa khidmah 2026-2031. Di tengah dimulainya kepemimpinan baru tersebut, istilah Qanun Asasi kembali mendapat perhatian karena memiliki posisi penting dalam memahami dasar pemikiran dan arah perjuangan Nahdlatul Ulama. Qanun Asasi merupakan paturan dasar atau undang-undang pokok yang dirumuskan oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari sebagai pedoman dan fondasi ideologis bagi organisasi Nahdlatul Ulama (NU)
Gus Kikin merupakan cucu dari Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Karena itu, pembahasan mengenai Qanun Asasi menjadi relevan ketika melihat bagaimana warisan pemikiran sang pendiri NU dapat terus menjadi rujukan dalam perjalanan organisasi pada masa kini.
Qanun Asasi pada dasarnya berkaitan dengan prinsip-prinsip dasar yang menjadi landasan berdirinya dan bergeraknya NU. Salah satu teks penting yang berkaitan dengan hal tersebut adalah Muqaddimah Qanun Asasi karya KH M Hasyim Asy’ari. Dokumen tersebut memuat gagasan keagamaan, persatuan umat, kedudukan ulama, pentingnya tolong-menolong, amar ma’ruf nahi munkar, serta dorongan untuk menjaga keselamatan dan kemaslahatan umat.
Kajian mengenai pemikiran tersebut antara lain dibahas dalam penelitian Fahmi Husen dan Hanifudin dari Universitas Hasyim Asy’ari Jombang berjudul “Prinsip Dasar Muqaddimah Qanun Asasi Perspektif Pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ri”. Penelitian itu diterbitkan dalam JIM Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah volume 9 nomor 4 pada November 2024, halaman 527-541.
Dalam kajian itu, Muqaddimah Qanun Asasi ditempatkan sebagai salah satu karya penting KH Hasyim Asy’ari dalam memberikan pedoman bagi NU. Naskah tersebut disebut merupakan pidato KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar Nahdlatul Ulama dalam forum muktamar. Dalam literatur yang dikaji para peneliti, terdapat perbedaan penyebutan mengenai forum penyampaiannya, yakni ada yang mengaitkannya dengan Muktamar NU pertama pada 1926 dan ada pula yang menyebut Muktamar NU ketiga pada 1928.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!