Prof. Rhenald Kasali: Tugas Pengusaha Melawan Resesi dengan Berpikir Cepat
VISI.NEWS | SOLO - Pakar ekonomi dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB-UI), Prof. Rhenald Kasali, melontarkan kritik kepada para pengusaha yang tidak berpikir cepat dan berpikir segar secara jernih dalam menyikapi dinamika perekonomian global, khususnya terkait dengan isu-isu resesi belakangan ini.
Kritik itu dilontarkan akademisi yang juga motivator bisnis itu di depan para pengusaha muda yang tergabung dalam organisasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), peserta Musyawarah Cabang (Muscab) HIPMI Solo IX, di Hotel Sunan, Sabtu (4/2/2023).
"Resesi itu perlu disikapi dengan berpikir cepat dan pikiran jernih yang segar. Karena pandangan tentang resesi adalah pada masalah cara berpikir," katanya.
Di depan lebih 100 orang pengusaha muda itu, Prof. Rhenald Kasali menunjukkan contoh kecenderungan cara berpikir melalui questioner yang harus direspons para peserta muscab.
Dari jawaban yang ditayangkan langsung, pakar ekonomi dan bisnis itu menunjukkan bukti sebagian besar respons sebagai cara berpikir lambat.
"Tugas pengusaha adalah melawan resesi. Dia harus bisa berpikir cepat mencari cara mengatasi, bukan berpikir lambat dengan perhitungan -perhitungan yang menakutkan. Karena, menurut Pak Jusuf Kalla, pengusaha itu saudagar yang memiliki seribu akal," tandasnya sambil mengutip pendapat mantan Wapres Jusuf Kalla.
Menyinggung isu resesi yang melanda dunia, Prof. Rhenald Kasali, mengingatkan, Indonesia baru mengalami resesi 3 kali sedangkan Amerika Serikat sudah 12 kali. Penyebab resesi terkait dengan persoalan dunia bercampur baur, bukan semata persoalan ekonomi tetapi ada persoalan, di antaranya geopolitik dan lain-lain.
Dalam menyikapi isu resesi, dia menyarankan agar para pengusaha muda memahami tantangan masa depan, seperti penggunaan robot yang berdampak berkurangnya tenaga kerja, pekerjaan yang tidak banyak lagi dikerjakan di kantor yang dia sebut "goodbye meja kerja", perubahan rumah sakit yang akan menjadi wellness, less hierarchy, dan sebagainya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!