Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026

Mengenang Kembali Jejak Marsinah

ED
Minggu, 17 Mei 2026 | 15:45 WIB
Bagikan
Mengenang Kembali Jejak Marsinah

Marsinah. /visi.news/ai

VISI.NEWS | JAKARTA - Nama Marsinah kembali menggema dalam sejarah Indonesia setelah resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025. Penghormatan itu menjadikan Marsinah sebagai pahlawan nasional pertama yang lahir setelah Indonesia merdeka, sekaligus simbol keberanian kaum buruh melawan ketidakadilan.

Tiga dekade setelah kematiannya yang tragis dan penuh misteri, nama Marsinah tetap hidup sebagai ikon perjuangan hak pekerja, perempuan, dan hak asasi manusia di Indonesia. Kisahnya bukan sekadar cerita tentang seorang buruh pabrik, tetapi potret kelam relasi kekuasaan, militerisme, dan perjuangan rakyat kecil di era Orde Baru.

Lahir dari Keluarga Sederhana

Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Sumini dan Mastin. Sejak kecil, kehidupannya jauh dari kemewahan. Ia dibesarkan oleh nenek dan bibinya setelah kondisi ekonomi keluarga memaksanya hidup sederhana.

Masa kecil Marsinah diwarnai perjuangan membantu keluarga. Ia berjualan makanan ringan demi menambah penghasilan keluarga sambil tetap menempuh pendidikan. Setelah lulus SD dan SMP di Nganjuk, Marsinah sempat melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Muhammadiyah. Namun keterbatasan biaya membuat sekolahnya terhenti.

Kondisi ekonomi memaksanya merantau mencari pekerjaan. Setelah sempat bekerja di pabrik sepatu Bata di Surabaya, Marsinah kemudian pindah ke PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik jam tangan di Porong, Sidoarjo. Di sanalah ia mulai dikenal sebagai sosok kritis dan berani membela hak rekan-rekannya sesama buruh.

Perlawanan Buruh di Tengah Rezim Orde Baru

Awal 1993 menjadi titik panas hubungan buruh dan perusahaan di Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur saat itu mengeluarkan imbauan kenaikan kesejahteraan pekerja sebesar 20 persen. Namun banyak perusahaan enggan menjalankannya, termasuk PT CPS tempat Marsinah bekerja.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.