BMKG: Cuaca Bandung Hari Ini Didominasi Berawan, Suhu Berkisar 16-28 Derajat Celsius 12 Jul 2026 Akademi Persib Bandung Lolos Final Hydroplus Soccer League U18 11 Jul 2026 Ole Romeny Tinggalkan Oxford United Gabung Fortuna Sittard 11 Jul 2026 Saat Presiden RI Pilih Tunda Proyek Strategis Demi Selamatkan Stabilitas Ekonomi 11 Jul 2026 Daftar Harga Tiket Konser ENHYPEN di JIS 2027 11 Jul 2026 Profil Tan Kian Konglomerat Properti yang Disorot Kasus Asabri 11 Jul 2026 Arus Kendaraan Menuju Sukabumi Meningkat di Momen Akhir Libur Sekolah 11 Jul 2026 Polisi Periksa 15 Saksi Usai Geledah 12 Lokasi, Termasuk Tan Kian 11 Jul 2026 Profil Rudi Margono yang Ditunjuk Jadi Plt Jampidsus Kejagung 11 Jul 2026 Conor McGregor Kembali Hadapi Max Holloway di UFC 329 11 Jul 2026 BMKG: Cuaca Bandung Hari Ini Didominasi Berawan, Suhu Berkisar 16-28 Derajat Celsius 12 Jul 2026 Akademi Persib Bandung Lolos Final Hydroplus Soccer League U18 11 Jul 2026 Ole Romeny Tinggalkan Oxford United Gabung Fortuna Sittard 11 Jul 2026 Saat Presiden RI Pilih Tunda Proyek Strategis Demi Selamatkan Stabilitas Ekonomi 11 Jul 2026 Daftar Harga Tiket Konser ENHYPEN di JIS 2027 11 Jul 2026 Profil Tan Kian Konglomerat Properti yang Disorot Kasus Asabri 11 Jul 2026 Arus Kendaraan Menuju Sukabumi Meningkat di Momen Akhir Libur Sekolah 11 Jul 2026 Polisi Periksa 15 Saksi Usai Geledah 12 Lokasi, Termasuk Tan Kian 11 Jul 2026 Profil Rudi Margono yang Ditunjuk Jadi Plt Jampidsus Kejagung 11 Jul 2026 Conor McGregor Kembali Hadapi Max Holloway di UFC 329 11 Jul 2026

Mengenang Kembali Jejak Marsinah

ED
Minggu, 17 Mei 2026 | 15:45 WIB
Bagikan
Mengenang Kembali Jejak Marsinah

Marsinah. /visi.news/ai

VISI.NEWS | JAKARTA - Nama Marsinah kembali menggema dalam sejarah Indonesia setelah resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025. Penghormatan itu menjadikan Marsinah sebagai pahlawan nasional pertama yang lahir setelah Indonesia merdeka, sekaligus simbol keberanian kaum buruh melawan ketidakadilan.

Tiga dekade setelah kematiannya yang tragis dan penuh misteri, nama Marsinah tetap hidup sebagai ikon perjuangan hak pekerja, perempuan, dan hak asasi manusia di Indonesia. Kisahnya bukan sekadar cerita tentang seorang buruh pabrik, tetapi potret kelam relasi kekuasaan, militerisme, dan perjuangan rakyat kecil di era Orde Baru.

Lahir dari Keluarga Sederhana

Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Sumini dan Mastin. Sejak kecil, kehidupannya jauh dari kemewahan. Ia dibesarkan oleh nenek dan bibinya setelah kondisi ekonomi keluarga memaksanya hidup sederhana.

Masa kecil Marsinah diwarnai perjuangan membantu keluarga. Ia berjualan makanan ringan demi menambah penghasilan keluarga sambil tetap menempuh pendidikan. Setelah lulus SD dan SMP di Nganjuk, Marsinah sempat melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Muhammadiyah. Namun keterbatasan biaya membuat sekolahnya terhenti.

Kondisi ekonomi memaksanya merantau mencari pekerjaan. Setelah sempat bekerja di pabrik sepatu Bata di Surabaya, Marsinah kemudian pindah ke PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik jam tangan di Porong, Sidoarjo. Di sanalah ia mulai dikenal sebagai sosok kritis dan berani membela hak rekan-rekannya sesama buruh.

Perlawanan Buruh di Tengah Rezim Orde Baru

Awal 1993 menjadi titik panas hubungan buruh dan perusahaan di Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur saat itu mengeluarkan imbauan kenaikan kesejahteraan pekerja sebesar 20 persen. Namun banyak perusahaan enggan menjalankannya, termasuk PT CPS tempat Marsinah bekerja.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.