KHUTBAH JUMAT | Islam, Fungsi Khalifah, dan Kesadaran Ekoteologis
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Kita semua tentu menyaksikan, dengan hati yang pedih, bencana ekologi di Sumatera. Hujan lebat yang diperkuat oleh siklon tropis memicu banjir bandang dan longsor di berbagai wilayah Sumatera—mulai dari Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat. Ribuan korban meninggal, dan berapa yang dinyatakan hilang. Ribuan rumah rusak atau terendam, dan puluhan ribu warga mengungsi. Belum lagi kerusakan infrastruktur, lahan pertanian, dan permukiman begitu luas. Dalam banyak analisis, selain faktor cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, kerusakan lingkungan seperti pembalakan liar dan deforestasi di daerah hulu turut memperparah skala bencana.
Sebagai insan beragama, kita tentu berempati, mendoakan, dan membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana. Tetapi lebih dari itu, bencana demi bencana yang melanda negeri ini harus menjadi cermin teologis. Jangan-jangan, selama ini kita lebih sibuk membicarakan ibadah ritual, tetapi melupakan ajaran penting agama bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman, dan merawat bumi adalah ibadah.
Kejadian banjir, longsor, dan krisis iklim seolah-olah sinyal bahwa alam marah dan memberontak kepada kita. Bencana adalah cara alam bertindak, menyampaikan pesan, mengingatkan bahwa kita telah melanggar perjanjian suci, bahwa kita telah kehilangan cinta dan kesadaran spiritual terhadap alam, dan bumi yang kita pijak ini.
Allah telah mengingatkan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rūm: 41).
Ayat ini seolah sedang turun kembali hari ini, di negeri kita. Indonesia yang dikenal sebagai jamrud kathulistiwa dan negara dengan kekayaan hayati luar biasa. Namun dalam beberapa tahun terakhir, data menunjukkan bahwa kita sedang berada di situasi yang sangat mengkhawatirkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa sepanjang tahun 2024 terjadi 2.181 bencana alam di Indonesia, dan sekitar 50% di antaranya adalah banjir. Banjir dan tanah longsor bukan lagi kejadian langka, tetapi seperti “tamu rutin” yang datang setiap tahun, bahkan setiap musim.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!