KHUTBAH JUMAT | Islam, Fungsi Khalifah, dan Kesadaran Ekoteologis
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Di masa lampau, hubungan antara manusia dan alam bukanlah hubungan antara subjek dan objek yang terpisah, melainkan sebuah keintiman yang sangat mendalam. Para leluhur kita memiliki semacam bahasa batin dengan semesta. Konon, ketika mereka hendak menanam sebutir benih di sebuah lahan, ada ritual sunyi yang mereka lakukan. Mereka akan mengambil segenggam tanah, mencium batu dan benih itu, seolah-olah sedang berbisik dan berdialog. Melalui sentuhan, melalui insting, dan melalui keheningan batin, mereka bisa merasakan apakah lahan itu cocok dan mau menerima benih tersebut. Bukan karena mereka memiliki teknologi canggih, melainkan karena mereka memiliki kedekatan batin dengan alam. Sehingga alam menyingkapkan dirinya kepada manusia karena manusia begitu menghormati dan mencintai alam.
Kearifan serupa juga kita temukan di berbagai suku-suku pesisir. Saat nelayan hendak melaut mengambil rezeki dari lautan mereka mempersembahkan sebagian hasil bumi kepada laut sebagai lambang persahabatan dan izin. Cerita-cerita semacam itu juga kita dengar dari orang-orang tua tentang pengalaman penjaga hutan atau orang rimba, penjaga sungai, dan penjaga gunung (juru kunci). Di tempat-tempat dimana hubungan manusia dengan alam begitu tak berjarak, kedekatan batin itu tercipta karena mereka saling menghargai.
Saat ini, suasana kedekatan batin dengan alam itu tampaknya mulai mengendur. Seakan ada dinding tebal antara manusia dan alam. Akibatnya, manusia menjadi asing dengan alam. Padalah dalam iman Islam, alam adalah ayat kauniyah, tanda-tanda kekuasaan Allah yang terbentang di alam semesta. Namun, ketika "tanda-tanda" itu diperlakukan tidak benar, misalnya hutan dirusak/digunduli, sungai dicemari, udara dipenuhi asap, air tercemari polusi, manusia kehilangan sensitifitas; tidak lagi bisa mencium perubahan musim. Sulit mengenali kapan hujan akan tiba dan kapan kemarau akan berakhir, karena alam sudah sulit diprediksi. Sesungguhnya pada level ini, bukan hanya ekosistem yang hancur, tetapi juga “halaman depan” dari mushaf besar bernama alam yang robek oleh ulah manusia. Kita bukan hanya merusak lingkungan, tapi juga mengabaikan ayat-ayat Allah yang terbentang di sekitar kita.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!