Ketika Sandal Muktamirin Tertinggal: Catatan Peserta tentang Muktamar NU
Ia mengungkapkan bahwa muktamar kali ini dibayang-bayangi Muktamar ke-33 di Jombang pada 2015 yang berlangsung kurang sesuai dengan keinginan. Agenda yang paling menjadi perhatian muktamirin, yakni pemilihan Ketum PBNU, juga berjalan dengan baik walau harus molor dari waktu yang telah ditentukan. Pemilihan yang menjadi bagian dari Pleno IV ini harus dilaksanakan mulai sekitar pukul 11 malam, Kamis (23/12/2021) sampai dengan pukul 10 siang, Jumat (24/12/2021).
Nyaris seluruh panitia dan peserta, termasuk pimpinan sidang tidak tidur hari itu. Sebenarnya, suasana saat-saat pemilihan dan penghitungan suara, termasuk sidang-sidang lainnya, tidak setegang dan seheboh apa yang diberitakan di berbagai media massa. Saya mengamati di media sosial, warganet yang tak hadir langsung malah merasa lebih tahu dan paham dinamika dalam muktamar. Sehingga terlihat sering terjadi perdebatan antar mereka di kolom komentar. Saya hanya bisa senyum.
Padahal, kita yang menjadi bagian langsung dan melaksanakan agenda-agenda muktamar sangat menikmati sekali dan penuh riang gembira. Jika ada perbedaan pendapat antar muktamirin, shalawat badar selalu bergema di ruangan menjadi obatnya. Sukses dan lancarnya Muktamar Ke-34 NU ini menjadi kado terbaik untuk Nahdlatul Ulama di penghujung 1 abad umurnya. Kesuksesan penyelenggaraan muktamar ini juga menjadi hadiah spesial untuk menyiapkan diri menghadapi abad ke dua umur NU. Dan Alhamdulillah, pada muktamar kali ini dengan dinamika yang terjadi, PBNU memiliki nakhoda baru, yakni KH Miftahul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU periode 2021-2026. Selamat bekerja Kiai Miftah dan Gus Yahya. Semoga Allah memberikan kesehatan, kelancaran, dan keberkahan dalam memikul tanggungjawab besar ini. Amin. @mpa/nu/muhammad faizin
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!