Ketika Sandal Muktamirin Tertinggal: Catatan Peserta tentang Muktamar NU
Mereka rela menempuh jarak yang jauh dan menghabiskan waktu berhari-hari untuk hormat atas ‘rawuhnya’ para kiai. * Fenomena membludaknya muktamirin dan muktamirout inilah yang menjadi pertimbangan panitia dalam mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Dari kacamata saya selaku peserta Muktamar Ke-34 NU, panitia sudah berusaha semaksimal mungkin dan sangat baik dalam menyiapkan kegiatan yang dilaksanakan resminya mulai 22-23 Desember 2021.
Mereka mampu mempersiapkan segala sesuatunya walaupun persiapan muktamar kali ini menjadi yang paling singkat dari muktamar-muktamar lainnya. Hanya dalam hitungan 2 bulan, panitia, baik lokal, daerah, dan nasional harus mempersiapkan muktamar. Jika ada kekurangan, itu menjadi hal yang sangat-sangat wajar dan patut dimaklumi.
Terkait dinamika yang terjadi sebelum pelaksanaan muktamar, seperti perbedaan pandangan tentang penetapan waktu dan tempat muktamar, saya menilai itu hal yang wajar pula. Karena PBNU dan panitia harus menyikapinya dengan memperhatikan kondisi perkembangan pandemi Covid-19. Secara umum menurut saya, muktamar di Lampung berjalan dengan baik. Hal ini pun senada dengan penilaian ulama sepuh yang menjadi salah satu anggota Tim Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) KH Nurul Huda Djazuli. Saat saya sowan beliau, Pengasuh Pesantren Ploso Mojo kediri Jawa Timur ini menilai muktamar di Lampung ini menjadi salah satu yang terbaik dari muktamar yang telah digelar oleh NU.
Mulai dari pendaftaran, panitia sudah menyediakan fasilitas digital secara online sehingga seluruh peserta memiliki barcode untuk bisa masuk ruang-ruang kegiatan muktamar. Peserta kemudian mendapatkan akomodasi untuk menginap termasuk konsumsi yang tersebar di berbagai titik lokasi. Bukan hal gampang menyiapkan akomodasi bagi ribuan peserta dan panitia. Apalagi ada empat lokasi yang menjadi venue muktamar yakni Pesantren Darussaadah Lampung Tengah, Universitas Lampung (Unila), UIN Raden Intan Lampung, dan Universitas Malahayati di Bandarlampung.
Terlebih dengan dinamika yang muncul, beberapa lokasi yang sudah terjadwal akan digunakan, terpaksa dipindahkan ke tempat yang baru. Ini tentu akan merubah semua skenario seperti kesiapan lokasi baru, transportasi, dan juga konsumsi peserta. Seperti yang terjadi saat lokasi pelaksanaan Rapat AHWA, untuk menentukan Rais ‘Aam dan pemilihan Ketua PBNU, harus dipindah. Sebelumnya panitia menetapkan Pesantren Darussaadah yang akan menjadi tempat agenda tersebut. Namun dalam sidang Pleno I tentang Tata Tertib Muktamar, forum memutuskan untuk memindahkannya ke Bandarlampung.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!