Ketika Sandal Muktamirin Tertinggal: Catatan Peserta tentang Muktamar NU

ED
Selasa, 28 Desember 2021 | 05:21 WIB
Bagikan
Ketika Sandal Muktamirin Tertinggal: Catatan Peserta tentang Muktamar NU

VISI.NEWS | LAMPUNG - Saya sudah kembali ke rumah setelah lima hari berangkat menjadi peserta Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama di Lampung. Ini adalah momen kedua kalinya saya bisa menjadi peserta Muktamar setelah sebelumnya saya juga bisa merasakan nikmatnya menjadi muktamirin pada Muktamar Ke-33 NU di Jombang Jawa Timur.

Saya merasa bersyukur sekali menjadi bagian keberkahan yang ada dalam muktamar. Hal ini juga yang sering diingatkan oleh Prof M Nuh, Ketua SC Muktamar Ke-34 NU, bahwa tidak semua orang bisa menjadi peserta muktamar dan tidak semua orang bisa menjadi peserta Muktamar Ke-34 di Lampung. Alhamdulillah. Setelah sampai rumah, tiba-tiba seorang teman di salah satu grup WhatsApp, yang menjadi panitia daerah muktamar, mengirimkan sebuah gambar sepasang sandal yang tertinggal di arena Muktamar. “Bagi yang sandalnya tertinggal, silakan hubungi panitia.”

Demikian ia menulis caption-nya. Saya bergumam, “Tanggung jawab sekali para panitia hingga barang-barang kecil seperti ini terperhatikan”. Saya perhatikan, model sandalnya adalah sandal ‘lili’, merk fenomenal dan bersejarah yang memang identik sering dipakai oleh orang-orang tua dan para kiai. Saya pun berpikir, mungkin panitia ini menganggap bahwa sandal yang tertinggal tersebut milik salah satu kiai yang ikut muktamar.

Memang, dalam tradisi NU, setiap hal yang menyangkut sosok kiai selalu mendapatkan perhatian khusus. Mulai dari ilmu, keluarga, hingga sandal kiai pun menjadi hal yang spesial untuk mencari keberkahan. Anda bisa lihat sendiri ketika sowan ke pesantren dan keluar dari ruangan, bisa dipastikan sandal Anda akan tertata rapi menghadap posisi untuk siap digunakan.

Tak terkecuali pada momentum Muktamar NU kali ini. Kala para kiai dari berbagai penjuru Indonesia hadir di Lampung, para santri berbondong-bondong ‘ngalap berkah’ untuk bisa bertemu dengan para kiainya. Mereka menyiapkan segala hal yang dibutuhkan oleh para kiai untuk lancarnya agenda dalam forum permusyawaratan tertinggi NU ini.

Sampai-sampai saya dengar, ada seorang santri yang baru satu minggu melahirkan, membawa bayinya ke Muktamar untuk bertemu dengan kiainya dan berharap doa khusus dari kiainya. Subhanallah. Hal ini lah yang menyebabkan muktamir-in (peserta resmi) mesti kalah jauh jumlahnya dengan muktamir-out (peserta tak resmi) atau sebagian orang menyebutnya muhibbin atau Romli (Rombongan Lillahi Taala).

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.