KAJIAN | Tahlilan (Bagian 2)

ED
Selasa, 4 Februari 2025 | 03:28 WIB
Bagikan
KAJIAN | Tahlilan (Bagian 2)

Oleh Gus Basir

C. Permasalahan Seputar Tahlilan

1. Tahlilan 7 Hari Dst

Dalam satu hadits riwayat Imam Bukhari dijelaskan, bahwa mayit dalam kuburan sangat mengharap doa dari orang orang yang mengasihinya. Ia ibarat orang tenggelam yang membutuhkan pertolongan. Beliau menyebutkan:

عن عبد الله بن عباس قال.قال النبي صلى الله غليه وسلم ما الميت في قبره الا كالغريق ينتظر دعوة تلحقه من أب او ام اة اخ او صديق فإذا لحقته كان احب اليه من الدنيا وما فيها.وان الله عز وجل ليدخل غلى اهل القبور من دعاء اهل الأرض أمثال الجبال وان هدية الأحياء إلى الأموات الإستغفار لهم.

"Dari Abullah bin 'Abbas, ia berkata, Nabi SAW bersabda, 'Tiadalah mayit dalam kubur melainkan seperti orang tenggelam yang mengharap pertolongan. Ia menanti doa yang sampai padanya dari ayah, ibu, saudara ataupun temannya. Ketika sampai, maka doa itu lebih ia cintai dari pada dunia dan seisinya. Sungguh Allah 'azza wa jalla memasukkan doa penduduk bumi sebesar gunung-gunung kepada penghuni kubur dan sungguh hadiah orang-orang hidup kepada orang-orang yang telah mati adalah permohonan ampunan bagi mereka." (HR Baihaqi).

Kiranya dengan petunjuk hadits tersebut, masyarakat menyelenggarakan tahlilan yang pahalanya dihadiahkan kepada mayit. Biasanya tahlilan ini dilaksanakan pada hari kematian sampai tujuh hari, empat puluh hari, seratus, dan haul. Sebagai ungkapan kasih sayang kepadanya.

Lantas bagaimana hukum tahlilan pada hari-hari tersebut?

Dalam menjawab pertanyaan ini kita harus mengetahui pokok permasalahannya yaitu penghapusan sebuah ibadah pada waktu tertentu tanpa adanya dalil yang menjelaskannya, seperti contoh teradisi berjabat tangan seusai salat. Sebenarnya tidak ada anjuran khusus dari syari'at untuk melakukannya di waktu tersebut. Namun tidak masalah atau boleh dilakukan karena hukum asalnya sunnah. Sedangkan kebiasaan mereka mengkhususkan pada saat-saat tersebut dan melalaikan di lain waktu tidak akan merubah hukum kesunnahannya, seperti penjelasan Imam an-Nawawi dalam al-Majmu'nya:

وتسن المصافحة عندكل لقاء وأما ما اعتاده الناس من المصافحة بعد صلاتي الصبح والعصر فلا اصل له في الشرع على هذالوجه.ولكن لابأس به فإن اصل المصافحة سنة وكونهم خصوها ببعض الأحوال وفرطوا في أكثرها لايخرج ذلك البعض عن كونه مشروعة فيه.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.