DARI PONPES KE PONPES | Mengenal Mang Haji Abah dan Pesantren Hidayatul Hikmah Kutawaringin Soreang

ED
Senin, 27 Maret 2023 | 12:15 WIB
Bagikan
DARI PONPES KE PONPES | Mengenal Mang Haji Abah dan Pesantren Hidayatul Hikmah Kutawaringin Soreang

DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Al Ittifaq Ciwidey Kabupaten Bandung Bertariqoh “Sayuriyah”

DARI PONPES KE PONPES | Mama Kiai Muhammad Faqih Sang Pendiri Pesantren Baitul Arqom Lembur Awi

Pondok Pesantren yang akan kita ulas hari ini, merupakan pondok pesantren yang awal didirikannya, berawal dari ilapat atau petunjuk yang datang pada Mang Haji Abah, sebutan orang-orang pada pendiri pondok pesantren ini, yang memiliki nama lemgkap Rd. K.H. Asep Muhammad Hadimi dikenal juga dengan panggilan Abah Awing.

Dimana saat itu, ia sedang memiliki usaha di daerah Tanjung Priuk, dan sedang pesat-pesatnya berkembang. Tarikan batinnya mengharuskan ia meninggalkan semua usahanya itu, dan ia harus kembali ke daerah dimana ia dibesarkan, khususnya untuk berkhidmat didaerahnya, menjadi seorang yang menetap di sana, dan ia juga, diamanahkan untuk menjaga makam leluhurnya, yakni, Makam Dalem Abdul Rahman atau Eyang Dalem Gajah. Dan makam Eyang Dalem Gajah ini, dari sejak lama telah menjadi situs kabuyutan, makam pusaka masyarakat Kabupaten Bandung.

Mang Haji Abah, demikian orang banyak memanggilnya, lahir di Kampung Gajah Eretan tahun 1970, menamatkan sekolah di sana, hingga akhirnya tahun 1990 ia harus ikhtiar mencari jatidirinya dengan mengunjungi beberapa tempat, di daerah Jawa, pernah juga "nyantri" di Tebuireng, kemudian ke Sumatra dan Madura. Ia menjalani lelaku atau menguatkan perjalanan batinnya menimba ilmu pemahaman spiritual.

Hingga antara tahun 1998/1999 Mang Haji Abah kembali ke daerah asalnya, setelah harus meninggalkan Tanjung Priok, Jakarta, sebagai seorang pengusaha bongkar muat peti kemas yang sukses di sana.

Sekembalinya ke Gajah Eretan, ia tak tinggal di darat, seperti kebanyakan orang-orang lainnya bermukim, tapi ia tinggal selama tiga tahun di atas rakit yang dijadikan tempat tinggalnya, dan tinggal di tengah-tengah Sungai Citarum.

Selama tiga tahun itu ia habiskan hari-harinya di atas rakit, selama itu pula aktivitas ibadahnya, baik berkhalwat, ngaji, sampai mengajari anak-anak setempat mengaji selama tiga tahun, dengan istiqomah ia jalani hari demi harinya dari atas rakitnya tersebut.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.