VISI | Utsman bin Affan: Konglomerat Dermawan, Beli Surga dengan Hartanya

ED
Rabu, 11 Maret 2026 | 16:41 WIB
Bagikan
VISI | Utsman bin Affan: Konglomerat Dermawan, Beli Surga dengan Hartanya

Oleh Nuslih Jamiat

PAGI ITU, Rasulullah SAW berdiri di hadapan para sahabat. Wajahnya serius. Pasukan Romawi dengan 40.000 tentara sedang bersiap menyerang Madinah. Perang Tabuk—perang yang paling sulit—akan segera dimulai. Perjalanan jauh, cuaca panas terik, dan musuh yang sangat kuat. Rasulullah SAW membutuhkan dukungan penuh dari umat Islam. "Wahai kaum Muslimin, siapa yang mau membiayai pasukan ini? Siapa yang mau melengkapi tentara dengan kuda dan unta?" seru Rasulullah.

Umar bin Khattab, yang terkenal dermawan, bangkit dengan penuh semangat. "Ya Rasulullah, saya akan membawa separuh harta saya!" ujarnya dengan bangga. Rasulullah tersenyum dan menerima sumbangan Umar. Tidak lama kemudian, seorang pria dengan pakaian sederhana masuk. Ia membawa karavan panjang berisi 950 ekor unta, 70 ekor kuda, dan 1.000 dinar emas. Semua mata tertuju padanya. Ia adalah Utsman bin Affan—konglomerat Madinah yang kekayaannya setara Rp2.532 triliun di masa kini.

Rasulullah SAW tersenyum lebar. Beliau bersabda dengan lantang, "Tidak ada yang membahayakan Utsman setelah apa yang ia lakukan hari ini. Apapun yang ia perbuat setelah ini, tidak akan membahayakannya." (HR. Tirmidzi) Kemudian Rasulullah mengangkat tangannya dan berdoa berkali-kali, "Allahummaghfir li Utsman" (Ya Allah, ampunilah Utsman). Umar bin Khattab yang menyaksikan ini berkata dengan penuh kekaguman, "Sejak saat itu saya mengetahui bahwa sekali-kali saya tidak dapat melebihi Utsman dalam segala hal, selamanya."

Kisah: Pengusaha Paling Kaya di Zaman Rasulullah

Utsman bin Affan lahir pada tahun 574 Masehi dari keluarga terhormat Bani Umayyah, salah satu suku terpandang di kalangan Quraisy. Ayahnya, Affan bin Abi al-'As, meninggal di usia muda saat bepergian keluar negeri, meninggalkan Utsman dengan warisan besar. Namun, Utsman tidak hanya mengandalkan warisan—ia menjadi pedagang seperti ayahnya, dan bisnisnya berkembang pesat. Utsman termasuk salah satu dari 22 orang Mekah yang tahu cara menulis—sebuah keistimewaan di masa itu yang menunjukkan tingkat pendidikannya yang tinggi. Keterampilan ini sangat membantunya dalam mengelola bisnis yang kompleks dan mencatat transaksi dengan rapi.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.