VISI | Utsman bin Affan: Konglomerat Dermawan, Beli Surga dengan Hartanya
Di era modern 2026 ini, banyak konglomerat yang memiliki kekayaan miliaran bahkan triliunan rupiah. Namun, berapa banyak dari mereka yang menggunakan hartanya untuk kebaikan umat seperti Utsman bin Affan? Berapa banyak yang mewakafkan asetnya untuk kemaslahatan publik? Berapa banyak yang hidup sederhana meski sangat kaya?
Utsman bin Affan adalah role model sempurna bagi pengusaha Muslim di zaman apapun. Ia membuktikan bahwa wealth dan spirituality bisa berjalan beriringan. Sukses di dunia tidak harus mengorbankan akhirat. Kaya raya tidak harus sombong atau boros. Harta yang melimpah bisa menjadi sarana membeli surga, bukan jalan menuju neraka.
Pesantren-pesantren di Indonesia yang mengelola wakaf produktif adalah pewaris spirit Utsman bin Affan. Mereka tidak hanya menerima aset wakaf lalu didiamkan, tetapi dikelola secara profesional sehingga menghasilkan manfaat ekonomi berkelanjutan. Dari hotel, pertanian, peternakan, hingga AMDK—semua dikelola untuk kemaslahatan umat.
Dengan target pemerintah 35.926 lokasi wakaf produktif di 2026 dan dukungan dari berbagai pihak termasuk IPB University dan Bank Indonesia, masa depan wakaf produktif di Indonesia sangat cerah. Yang perlu dijaga adalah niat yang ikhlas dan pengelolaan yang profesional, seperti yang diajarkan Utsman bin Affan.
Maka, bagi kita yang diberi rezeki oleh Allah—entah sedikit atau banyak—ingatlah Utsman bin Affan. Jangan gunakan harta hanya untuk pamer atau kemewahan pribadi. Gunakanlah untuk kebaikan, untuk kemaslahatan umat, untuk membeli surga. Karena sejatinya, harta yang kita bawa ke akhirat bukanlah yang kita timbun, tetapi yang kita infakkan di jalan Allah.
Rasulullah SAW bersabda kepada Utsman, "Tidak ada yang membahayakan Utsman setelah apa yang ia lakukan hari ini." Ini adalah jaminan surga—sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang di dunia, tetapi bisa dibeli dengan menginfakkan harta di jalan Allah dengan ikhlas. Utsman bin Affan telah membeli surganya dengan Sumur Raumah, dengan 950 unta dan 70 kuda untuk Perang Tabuk, dengan 1.000 unta penuh gandum untuk orang kelaparan. Bagaimana dengan kita? Apa yang sudah kita "beli" untuk akhirat kita? Inilah pertanyaan yang harus kita renungkan.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!