VISI | Utsman bin Affan: Konglomerat Dermawan, Beli Surga dengan Hartanya
Selain itu, pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1.000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering. Saat itu Madinah dilanda kekeringan dahsyat. Kaum Muslimin mendatangi Khalifah Abu Bakar meminta bantuan. Abu Bakar berkata, "Bersabarlah, semoga Allah meringankan kesulitan kalian."
Pada petang harinya, kafilah Utsman dengan 1.000 unta mengangkut gandum, minyak, dan kismis tiba di Madinah. Para pedagang langsung mendatangi Utsman, menawarkan harga tinggi. Namun Utsman berkata, "Ada yang memberi harga lebih tinggi." Para pedagang menawar lebih tinggi lagi. Utsman terus berkata, "Ada yang lebih tinggi."
Akhirnya mereka bertanya, "Siapa yang memberi harga lebih tinggi, wahai Abu Amr?" Utsman menjawab, "Allah menjanjikan satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Apakah kalian bisa menyamai itu?" Mereka menjawab, "Tidak, kami tidak bisa." Utsman berkata, "Kalau begitu, saya persaksikan kepada Allah bahwa semua ini saya sedekahkan untuk kaum Muslimin yang membutuhkan."
Prinsip: Wealth for Good, Bukan for Show Off
Yang luar biasa dari Utsman bin Affan adalah meski ia sangat kaya raya, ia hidup dengan sangat sederhana. Tidak ada kemewahan berlebihan, tidak ada pamer harta. Syurahbil bin Muslimin melaporkan bahwa "Utsman biasa makan enak seperti yang biasanya disajikan oleh para penguasa, tetapi di rumah dia biasa makan roti dengan cuka atau minyak."
Utsman memahami prinsip fundamental: wealth for good, bukan for show off. Harta adalah amanah dari Allah yang harus digunakan untuk kebaikan, bukan untuk pamer atau kemewahan pribadi yang berlebihan. Bahkan di akhir masa kekhalifahan dan hidupnya, harta yang dimiliki Utsman hanya tersisa dua ekor unta saja. Semuanya dinafkahkan untuk kesejahteraan umat. Bahkan beliau pun tidak mau menerima tunjangan (gaji) dari Baitul Maal. Subhanallah, inilah karakter khas generasi yang dididik langsung oleh Rasulullah SAW.
Prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam yang menegaskan bahwa harta yang kita miliki sebenarnya adalah milik Allah, dan kita hanya sebagai pengelola sementara. Suatu hari nanti, kita akan dimintai pertanggungjawaban: dari mana kita dapatkan, dan untuk apa kita gunakan. Aplikasi Modern: Wakaf Produktif Pesantren (Hotel, Pertanian, dll)
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!