VISI | Pesantren Go Digital: Menuju Era Industri 4.0
Tim Universitas Muhammadiyah Karanganyar mengembangkan sistem pembayaran QRIS tanpa handphone berbasis AI, IoT, dan biometric key yang diimplementasikan di Pondok Pesantren Modern Imam Syuhodo, Polokarto, Sukoharjo (Waspada).
Masalahnya sederhana tapi krusial: banyak santri belum memiliki smartphone, sementara transaksi di lingkungan pesantren semakin kompleks dari kantin, koperasi, laundry, hingga administrasi sekolah (Waspada).
Solusinya? Sistem PESANTRIS menggunakan kartu RFID dan autentikasi sidik jari, santri cukup menempelkan kartu dan sistem otomatis memproses transaksi secara real-time (Waspada). QRIS tetap menjadi backbone-nya, jadi kompatibel dengan sistem pembayaran nasional!
"Kami tidak hanya belajar ilmu agama, tapi juga melihat langsung bagaimana teknologi bisa bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari," kata Agus Susilo, pimpinan pesantren.
QRIS di Pesantren: Dari Kantin Sampai Masjid
Yang lebih menarik lagi, QRIS kini merambah pesantren di seluruh Indonesia. Bank NTB Syariah meraih penghargaan sebagai Bank dengan Sinergi Program Akselerasi QRIS Terbaik di Anugerah BI NTB 2025, karena berhasil mengakselerasi QRIS secara masif mencakup transaksi di pondok pesantren dan lembaga pendidikan (Newspatroli).
Bahkan, KURMA 2025 di Kepri meluncurkan program QRIS 1.000 Masjid untuk meningkatkan efisiensi transaksi keuangan sosial syariah dengan memanfaatkan QRIS untuk pembayaran ZISWAF secara digital (TribunNews).
Bayangkan: jamaah yang mau bayar zakat, infaq, atau shadaqah tinggal scan QRIS. Transparansi meningkat, pengelolaan dana lebih rapi, dan yang paling penting—semua tercatat digital!
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!