VISI | Pesan
Oleh: Drajat
• Guru
• Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
• Wasekjen Komnasdik
• Master Hipnoterapis
• APKS PGRI Prov. Jabar
Ada kalanya seorang guru berdiri di depan kelas dengan perasaan yang tidak sepenuhnya ringan. Di luar sana, kehidupan sedang tidak selalu ramah. Berita tentang ekonomi, harga kebutuhan pokok, sulitnya lapangan pekerjaan, pemutusan hubungan kerja, dan berbagai persoalan sosial datang silih berganti. Guru mendengar semuanya. Guru melihatnya. Guru pun merasakannya sebagai bagian dari masyarakat.
Namun begitu memasuki ruang kelas, ada satu hal yang tidak boleh hilang: harapan. Sebab di hadapan guru bukan sekadar peserta didik. Di hadapan guru ada masa depan. Ada anak yang kelak menjadi dokter, guru, pengusaha, ilmuwan, petani, teknolog, seniman, birokrat, pemimpin, atau apa pun yang belum mampu mereka bayangkan hari ini.
Karena itu, seorang guru tidak boleh mewariskan ketakutan kepada peserta didiknya. Guru boleh kritis terhadap keadaan, tetapi tidak boleh mematikan harapan. Guru boleh kecewa terhadap berbagai persoalan negeri, tetapi tidak boleh membuat anak-anak percaya bahwa masa depan mereka sudah selesai. Justru sebaliknya. Ketika keadaan terasa gelap, guru harus menjadi cahaya.
Penulis sering membayangkan peserta didik yang duduk di bangku SMP hari ini. Sebagian besar dari mereka kelak akan menjadi manusia dewasa pada sekitar 2045. Tahun yang selama ini kita sebut sebagai momentum Indonesia Emas. Mereka bukan sekadar angka dalam sebuah dokumen perencanaan. Mereka adalah manusia yang hari ini masih bertanya, "Pak, nanti saya mau jadi apa?"
Pertanyaan sederhana itu sebenarnya sangat besar. Sebab di baliknya ada sebuah mimpi. Dan mimpi seorang anak tidak boleh dibunuh hanya karena orang dewasa sedang kecewa melihat keadaan. Bappenas sendiri menempatkan pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, serta karakter sebagai fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045. Bahkan dalam RPJPN 2025–2045, peningkatan daya saing SDM menjadi salah satu sasaran utama pembangunan. Artinya, apa yang dilakukan guru di ruang kelas hari ini sesungguhnya memiliki hubungan langsung dengan wajah Indonesia dua puluh tahun mendatang.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!