VISI | Pesan

Desi Rossilawati
Kamis, 13 Agustus 2026 | 20:12 WIB
Bagikan
VISI | Pesan

Oleh: Drajat

•    Guru
•    Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
•    Wasekjen Komnasdik
•    Master Hipnoterapis
•    APKS PGRI Prov. Jabar

Ada kalanya seorang guru berdiri di depan kelas dengan perasaan yang tidak sepenuhnya ringan. Di luar sana, kehidupan sedang tidak selalu ramah. Berita tentang ekonomi, harga kebutuhan pokok, sulitnya lapangan pekerjaan, pemutusan hubungan kerja, dan berbagai persoalan sosial datang silih berganti. Guru mendengar semuanya. Guru melihatnya. Guru pun merasakannya sebagai bagian dari masyarakat

Namun begitu memasuki ruang kelas, ada satu hal yang tidak boleh hilang: harapan. Sebab di hadapan guru bukan sekadar peserta didik. Di hadapan guru ada masa depan. Ada anak yang kelak menjadi dokter, guru, pengusaha, ilmuwan, petani, teknolog, seniman, birokrat, pemimpin, atau apa pun yang belum mampu mereka bayangkan hari ini.

Karena itu, seorang guru tidak boleh mewariskan ketakutan kepada peserta didiknya. Guru boleh kritis terhadap keadaan, tetapi tidak boleh mematikan harapan. Guru boleh kecewa terhadap berbagai persoalan negeri, tetapi tidak boleh membuat anak-anak percaya bahwa masa depan mereka sudah selesai. Justru sebaliknya. Ketika keadaan terasa gelap, guru harus menjadi cahaya.

Penulis sering membayangkan peserta didik yang duduk di bangku SMP hari ini. Sebagian besar dari mereka kelak akan menjadi manusia dewasa pada sekitar 2045. Tahun yang selama ini kita sebut sebagai momentum Indonesia Emas. Mereka bukan sekadar angka dalam sebuah dokumen perencanaan. Mereka adalah manusia yang hari ini masih bertanya, "Pak, nanti saya mau jadi apa?"

Pertanyaan sederhana itu sebenarnya sangat besar. Sebab di baliknya ada sebuah mimpi. Dan mimpi seorang anak tidak boleh dibunuh hanya karena orang dewasa sedang kecewa melihat keadaan. Bappenas sendiri menempatkan pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, serta karakter sebagai fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045. Bahkan dalam RPJPN 2025–2045, peningkatan daya saing SDM menjadi salah satu sasaran utama pembangunan. Artinya, apa yang dilakukan guru di ruang kelas hari ini sesungguhnya memiliki hubungan langsung dengan wajah Indonesia dua puluh tahun mendatang.

Penulis tidak ingin berbohong kepada peserta didik. Penulis tidak akan mengatakan bahwa negeri ini selalu baik-baik saja. Mereka juga akan melihat kenyataan. Mereka memiliki mata. Mereka memiliki telinga. Mereka membaca media sosial. Mereka mendengar percakapan orang tua. Mereka melihat harga barang. Mereka mengetahui ketika seseorang kehilangan pekerjaan. Karena itu, tidak tepat apabila guru menutup mata terhadap realitas. Tetapi ada perbedaan besar antara memberi tahu kenyataan dan menanamkan keputusasaan. Guru harus mampu mengatakan: "Ya, Nak, negeri kita sedang menghadapi banyak persoalan. Tetapi bukan berarti masa depan kalian harus ikut menjadi persoalan. Justru kalianlah yang kelak harus memperbaikinya."

Kalimat sederhana semacam itu adalah pesan. Pesan yang mungkin tidak langsung terlihat hasilnya. Tetapi bisa tinggal sangat lama dalam ingatan seorang anak.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia pada Juni 2026 sebesar 3,34 persen secara tahunan, sementara inflasi bulanan mencapai 0,44 persen. BPS juga mencatat harga beras premium di tingkat penggilingan pada Juni 2026 rata-rata Rp14.815 per kilogram, naik 1,01 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Angka-angka itu mungkin terlihat sederhana di atas kertas. Tetapi bagi keluarga tertentu, kenaikan harga berarti harus menghitung ulang uang belanja. Harus memilih. Harus mengurangi. Harus menunda. Begitulah statistik menjadi kehidupan. Demikian pula persoalan pekerjaan. BPS mencatat pada Februari 2026 terdapat 147,67 juta penduduk bekerja, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka berada pada angka 4,68 persen atau sekitar 7,24 juta orang. Kementerian Ketenagakerjaan juga mencatat 23.470 pekerja ter-PHK pada Januari–Mei 2026 yang terklasifikasi sebagai peserta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan.

Tentu angka-angka itu tidak berarti seluruh masyarakat sedang mengalami kesulitan yang sama. Bahkan data BPS menunjukkan jumlah penduduk bekerja meningkat dibandingkan Februari 2025. Namun bagi guru, setiap angka tetap memiliki wajah. Ada seorang ayah. Ada seorang ibu. Ada keluarga. Ada cicilan. Ada anak yang masih sekolah. Dan ada kecemasan tentang hari esok.

Lalu apa yang harus dilakukan guru? Apakah guru harus membawa seluruh kegelisahan itu ke dalam kelas? Tidak. Guru harus mengubah kegelisahan menjadi energi pendidikan. Jika masyarakat sedang menghadapi kesulitan ekonomi, anak-anak justru harus diajarkan keterampilan. Jika lapangan pekerjaan semakin kompetitif, mereka harus dibekali kemampuan. Jika teknologi berubah cepat, mereka harus belajar beradaptasi. Jika informasi semakin deras, mereka harus memiliki literasi. Jika kebohongan semakin mudah menyebar, mereka harus memiliki daya kritis. Jika dunia semakin individualistis, mereka harus belajar empati. Dan jika mereka kelak memegang jabatan, mereka harus memahami arti amanah. Inilah pesan seorang guru.

Penulis sering mengatakan kepada peserta didik: "Jangan hanya bercita-cita menjadi orang sukses. Jadilah manusia yang berguna." Sebab sukses tanpa karakter dapat menjadi bencana. Kecerdasan tanpa kejujuran dapat disalahgunakan. Kekuasaan tanpa moral dapat melukai banyak orang. Kekayaan tanpa kepedulian dapat melahirkan kesenjangan. Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang mampu menjawab soal. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang mampu menjawab persoalan kehidupan. Di sinilah guru mempunyai pekerjaan yang jauh lebih besar daripada sekadar menyelesaikan kurikulum.

Kita berharap peserta didik memiliki mimpi yang spesifik. Ketika seorang anak mengatakan ingin menjadi dokter, jangan hanya menjawab, "Belajar yang rajin." Tanyakan: "Dokter seperti apa yang ingin kamu menjadi?" Ketika seorang anak ingin menjadi diplomat, arahkan ia mencintai bahasa, membaca isu dunia, belajar berbicara, berdiskusi, dan memahami budaya. Ketika seorang anak ingin menjadi atlet, arahkan ia berlatih secara disiplin. Ketika seorang anak ingin menjadi pengusaha, ajarkan bagaimana menghitung risiko, memahami kebutuhan masyarakat, dan menjaga kejujuran. Ketika seorang anak ingin menjadi guru, ajarkan bahwa mendidik manusia bukan pekerjaan kecil.

Dengan demikian, mimpi tidak berhenti sebagai angan-angan. Mimpi berubah menjadi tujuan. Tujuan berubah menjadi rencana. Rencana berubah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan yang dilakukan dengan tekun perlahan menjadi masa depan.

Inilah yang sering terlupakan dalam pembicaraan tentang Indonesia Emas. Kita terlalu sering berbicara tentang tahun 2045. Padahal Indonesia Emas tidak akan tiba-tiba muncul pada 1 Januari 2045. Ia sedang dibuat hari ini. Di ruang kelas. Di meja belajar. Di perpustakaan. Di laboratorium. Di lapangan olahraga. Di rumah. Di lingkungan masyarakat.

Indonesia 2045 sedang dikerjakan oleh anak-anak yang hari ini kita didik. Karena itu, kualitas pendidikan hari ini menentukan kualitas bangsa esok hari. Bappenas bahkan menegaskan bahwa transformasi pendidikan merupakan salah satu game changer menuju Indonesia Emas 2045, dengan dorongan antara lain pada wajib belajar, kualitas pendidikan tinggi, STEM, dan pengelolaan guru. 

Maka jangan pernah menganggap kecil pekerjaan seorang guru. Guru mungkin tidak sedang membangun gedung pencakar langit. Tetapi guru sedang membangun manusia yang suatu hari akan merancang gedung itu. Guru mungkin tidak sedang membuat kebijakan negara. Tetapi guru sedang mendidik manusia yang kelak membuat kebijakan. Guru mungkin tidak sedang memimpin perusahaan. Tetapi guru sedang membentuk manusia yang kelak memimpin perusahaan. Dan mungkin, seorang anak yang hari ini duduk diam di bangku paling belakang, suatu hari menjadi orang yang menentukan arah negeri ini.

Karena itu, penulis  memberikan satu pesan kepada peserta didik. Jangan menyerah hanya karena kalian melihat keadaan hari ini. Kalian boleh kecewa. Kalian boleh bertanya. Kalian boleh mengkritik. Kalian bahkan wajib memiliki keberanian untuk mengatakan sesuatu yang tidak benar sebagai sesuatu yang tidak benar. Tetapi lakukan dengan ilmu. Dengan data. Dengan adab. Dengan tanggung jawab. Jangan menjadi generasi yang hanya pandai mengeluh. Jadilah generasi yang mampu mencari jalan keluar. Jangan hanya bertanya, "Mengapa negeri ini begini?" Tetapi suatu saat bertanyalah, "Apa yang dapat saya lakukan agar negeri ini menjadi lebih baik?" Pertanyaan kedua jauh lebih penting.

Kepada anak-anak yang sedang bermimpi, jangan malu memiliki cita-cita besar. Bermimpilah menjadi ilmuwan. Bermimpilah menjadi dokter. Bermimpilah menjadi guru. Bermimpilah menjadi pengusaha. Bermimpilah menjadi pemimpin. Bermimpilah menjadi apa pun yang membuat kalian mampu memberi manfaat. Jangan biarkan keadaan hari ini menentukan batas masa depan kalian. Sebab keadaan dapat berubah. Teknologi berubah. Ekonomi berubah. Pemimpin berganti. Kebijakan berganti. Zaman berganti. Tetapi manusia yang memiliki ilmu, keterampilan, karakter, dan ketekunan akan selalu memiliki kesempatan untuk berdiri kembali.

Sebagai guru, penulis mungkin tidak dapat mengubah seluruh negeri. Penulis hanya memiliki ruang kelas. Hanya memiliki papan tulis. Buku. Spidol. Dan suara yang setiap hari mencoba menyampaikan pesan. Tetapi penulis percaya, perubahan besar memang sering kali dimulai dari sesuatu yang kecil. Satu anak yang belajar jujur. Satu anak yang berani bertanya. Satu anak yang kembali membaca. Satu anak yang berhenti menyerah. Satu anak yang menemukan kembali cita-citanya. Satu anak yang kelak menjadi pemimpin yang amanah. Barangkali itulah kontribusi terbesar seorang guru.

Kepada para guru, mari kita tetap tegar. Kita boleh lelah. Kita boleh mengeluh sesekali. Kita boleh merasa keadaan tidak ideal. Tetapi ketika memasuki kelas, jangan lupa membawa cahaya. Anak-anak kita tidak membutuhkan guru yang berpura-pura bahwa semua persoalan telah selesai. Mereka membutuhkan guru yang berkata: "Keadaan memang tidak selalu mudah. Tetapi kita masih punya kesempatan untuk memperbaikinya." Itulah nutrisi. Itulah vitamin. Itulah cahaya. Dan mungkin, itulah pesan yang paling mereka butuhkan.

Suatu hari nanti, anak-anak yang sekarang duduk di hadapan kita akan menjadi orang dewasa. Mereka akan memasuki dunia yang berbeda. Mereka mungkin akan memegang jabatan. Mereka mungkin akan mengelola perusahaan. Mereka mungkin akan menjadi ilmuwan. Mereka mungkin menjadi guru. Bisa jadi mereka menjadi pemimpin negeri ini. Saat itu, kita berharap mereka mengingat satu hal: Pernah ada seorang guru yang mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah. Pernah ada seorang guru yang mengatakan bahwa kejujuran tidak boleh dijual. Pernah ada seorang guru yang meminta mereka tetap memiliki mimpi ketika keadaan sedang sulit. Pernah ada seorang guru yang percaya bahwa mereka mampu memperbaiki negeri ini.

Jika pesan itu masih hidup dalam hati mereka, sesungguhnya tugas guru belum pernah sia-sia. Sebab pendidikan bukan hanya tentang apa yang peserta didik ketahui hari ini. Pendidikan adalah tentang siapa mereka kelak. Dan Indonesia 2045 bukan milik mereka yang paling banyak berbicara hari ini. Indonesia 2045 adalah milik anak-anak yang sedang kita didik. 

Maka, meskipun mata kita menyasikan kenyataan yang getir, meskipun telinga kita mendengar jeritan masyarakat, meskipun langkah kita terkadang terasa berat, mari jangan berhenti memberikan pesan yang sama: Belajarlah. Bermimpilah. Berjuanglah. Jadilah manusia yang jujur. Jadilah manusia yang berilmu. Jadilah manusia yang bermanfaat. Sebab negeri ini masih membutuhkan kalian.  Indonesia yang lebih baik sedang menunggu kalian di masa depan.**

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.