VISI | Muka Badak Pemimpin
Kita sedang mempersiapkan Generasi Emas 2045. Pertanyaannya sederhana: Generasi emas seperti apa yang kita inginkan? Apakah generasi yang pintar tetapi mudah dimanipulasi? Apakah generasi yang berani berbicara tetapi tidak mampu memeriksa fakta? Apakah generasi yang memiliki banyak pengetahuan tetapi kehilangan karakter? Tentu bukan. Kita membutuhkan generasi yang cerdas sekaligus jujur. Kritis tetapi santun. Berani tetapi bertanggung jawab. Mampu memimpin tetapi tidak haus kekuasaan. Dan ketika melakukan kesalahan, berani mengatakan, "Saya salah."
Karena itu, persoalan "muka badak" sesungguhnya bukan hanya persoalan orang lain. Ia juga menjadi cermin bagi kita. Apakah kita sendiri mudah meminta maaf? Apakah kita mampu menerima kritik? Apakah kita bersedia mengakui kekurangan? Apakah kita mau memperbaiki kesalahan? Jangan sampai kita sibuk meminta pemimpin berubah, sementara kita sendiri tidak pernah mau bercermin. Perubahan bangsa selalu dimulai dari manusia. Dan pendidikan adalah salah satu tempat terbaik untuk menanamkan perubahan itu.
Guru harus menjadi cahaya. Bukan cahaya yang menyilaukan. Tetapi cahaya yang menuntun. Ketika peserta didik melihat kegaduhan, guru memberikan kejernihan. Ketika mereka melihat ketidakjujuran, guru menunjukkan arti integritas. Ketika mereka melihat kesewenang-wenangan, guru mengajarkan pentingnya keadilan. Ketika mereka melihat orang dewasa gagal menjadi teladan, guru berkata: "Jangan kalian tiru kesalahannya. Jadilah generasi yang lebih baik." Kalimat itu mungkin sederhana. Tetapi bisa jadi kelak akan menjadi pegangan hidup seorang anak.
Pada akhirnya, negeri ini tidak membutuhkan pemimpin yang tidak pernah salah. Kita membutuhkan pemimpin yang mau belajar dari kesalahan. Tidak membutuhkan pemimpin yang selalu dipuji. Kita membutuhkan pemimpin yang sanggup mendengar kritik. Tidak membutuhkan pemimpin yang hanya terlihat kuat. Kita membutuhkan pemimpin yang memiliki kekuatan moral. Dan tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar pandai berbicara. Kita membutuhkan pemimpin yang kata dan tindakannya dapat dipercaya. Sebab jabatan adalah sementara. Kekuasaan memiliki batas. Tepuk tangan akan berhenti. Tetapi jejak kepemimpinan akan tinggal dalam ingatan masyarakat. Maka ketika peserta didik bertanya, "Pak, mengapa ada pemimpin yang tidak tahu malu?" Penulis tidak ingin menjawab dengan kemarahan. Penulis menjawab: "Nak, jangan terlalu sibuk mencari siapa yang salah. Belajarlah menjadi manusia yang ketika salah berani mengakuinya, ketika dikritik mau mendengarnya, ketika diberi amanah mampu menjaganya, dan ketika memiliki kekuasaan tidak lupa bahwa semua itu hanya titipan."
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!