VISI | Muka Badak Pemimpin
Kita sering mengajarkan kepada anak-anak: "Kalau salah, minta maaf." "Kalau merusak, perbaiki." "Kalau mengambil sesuatu yang bukan milikmu, kembalikan." "Kalau diberi amanah, laksanakan dengan baik."
Nilai-nilai tersebut sederhana. Tetapi justru nilai sederhana itulah fondasi peradaban. Sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan manusia pintar. Bangsa membutuhkan manusia yang tahu batas. Tahu malu. Tahu diri. Tahu tanggung jawab. Dan tahu kapan harus berkata, "Saya keliru."
Sebagai guru yang telah lebih dari tiga dekade berada di ruang kelas, penulis melihat bahwa anak-anak sebenarnya sangat peka terhadap ketidakkonsistenan. Mereka tahu ketika guru hanya pandai berbicara tetapi tidak memberikan contoh. Mereka tahu ketika aturan hanya berlaku kepada sebagian orang. Mereka tahu ketika orang dewasa mengatakan satu hal tetapi melakukan hal yang berbeda. Karena itu, pendidikan karakter tidak mungkin hanya dilakukan melalui buku pelajaran. Karakter harus diperlihatkan. Anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan. Mereka belajar dari apa yang kita lakukan.
Di kelas, penulis sering membuat kesalahan dengan sengaja maupun tidak sengaja. Dan ketika peserta didik mengingatkan, penulis berusaha mengatakan, "Terima kasih. Bapak juga bisa salah."
Kalimat itu sederhana. Namun ada pelajaran besar di dalamnya. Guru tidak kehilangan wibawa ketika mengakui kesalahan. Justru wibawa dapat tumbuh karena kejujuran. Begitu pula seorang pemimpin. Mengakui kesalahan tidak otomatis berarti kehilangan kepemimpinan. Sebaliknya, keberanian mengakui kesalahan dapat menjadi tanda bahwa seseorang masih memiliki integritas. Yang berbahaya bukanlah pemimpin yang pernah salah. Yang berbahaya adalah ketika kesalahan tidak pernah mau diakui, kritik selalu dianggap sebagai serangan, dan pembenahan selalu ditunda.
Di luar sekolah, peserta didik melihat dunia yang jauh lebih kompleks. Mereka melihat berita tentang dugaan korupsi. Mereka membaca konflik antarlembaga. Mereka menyaksikan perdebatan politik. Mereka melihat demonstrasi. Mereka membaca kritik di media sosial. Bahkan mereka dapat melihat berbagai peristiwa lingkungan dan bencana yang kemudian memunculkan pertanyaan tentang tanggung jawab negara. Informasi datang begitu cepat. Guru tidak mungkin menyuruh anak-anak menutup mata. Yang harus dilakukan justru sebaliknya: ajari mereka membuka mata dengan nalar.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!