VISI | Muka Badak Pemimpin
Oleh: Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Master Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. Jabar
ADA satu pertanyaan peserta didik yang kadang membuat seorang guru lebih lama terdiam daripada ketika menghadapi soal matematika yang sulit.
"Pak, mengapa ada orang yang sudah jelas salah, tetapi masih bisa tersenyum?" Pertanyaan berikutnya lebih tajam. "Mengapa mereka tidak malu?" Lalu seorang anak menyambung,"Bukankah kita di sekolah diajarkan bahwa mengambil sesuatu yang bukan hak kita itu salah? Mengapa kalau orang besar melakukannya, mereka masih bisa tampil percaya diri?"
Guru mungkin dapat menjawab soal persamaan linear. Guru dapat menjelaskan pecahan, geometri, peluang, bahkan rumus yang rumit. Tetapi menjawab pertanyaan tentang perilaku manusia, khususnya ketika anak-anak melihat ketidaksesuaian antara nilai yang diajarkan di sekolah dan kenyataan yang mereka saksikan, persoalannya menjadi jauh lebih dalam. Sebab yang sedang mereka pertanyakan bukan sekadar perilaku seseorang. Mereka sedang mempertanyakan kejujuran, keadilan, dan keteladanan.
Istilah "muka badak" sering digunakan masyarakat untuk menggambarkan seseorang yang dianggap tidak tahu malu, tetap tenang atau percaya diri meskipun mendapat kritik atau berada dalam situasi yang semestinya membuatnya melakukan introspeksi. Namun bagi penulis, persoalannya bukan pada wajah. Persoalannya ada pada hilangnya rasa malu sebagai rem moral. Rasa malu sesungguhnya bukan kelemahan. Ia adalah salah satu mekanisme penting dalam kehidupan sosial. Orang malu ketika berbuat salah. Orang merasa bersalah ketika merugikan orang lain. Orang meminta maaf ketika menyadari kekeliruannya. Dan orang yang memiliki amanah semestinya lebih sensitif terhadap kesalahan karena semakin besar kewenangannya, semakin besar pula dampak tindakannya terhadap masyarakat. Karena itu, ketika seorang pemimpin melakukan kesalahan, respons yang paling terhormat bukanlah mencari kambing hitam. Respons paling terhormat adalah berhenti sejenak, memeriksa diri, mendengarkan kritik, kemudian memperbaiki.
Kita sering mengajarkan kepada anak-anak: "Kalau salah, minta maaf." "Kalau merusak, perbaiki." "Kalau mengambil sesuatu yang bukan milikmu, kembalikan." "Kalau diberi amanah, laksanakan dengan baik."
Nilai-nilai tersebut sederhana. Tetapi justru nilai sederhana itulah fondasi peradaban. Sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan manusia pintar. Bangsa membutuhkan manusia yang tahu batas. Tahu malu. Tahu diri. Tahu tanggung jawab. Dan tahu kapan harus berkata, "Saya keliru."
Sebagai guru yang telah lebih dari tiga dekade berada di ruang kelas, penulis melihat bahwa anak-anak sebenarnya sangat peka terhadap ketidakkonsistenan. Mereka tahu ketika guru hanya pandai berbicara tetapi tidak memberikan contoh. Mereka tahu ketika aturan hanya berlaku kepada sebagian orang. Mereka tahu ketika orang dewasa mengatakan satu hal tetapi melakukan hal yang berbeda. Karena itu, pendidikan karakter tidak mungkin hanya dilakukan melalui buku pelajaran. Karakter harus diperlihatkan. Anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan. Mereka belajar dari apa yang kita lakukan.
Di kelas, penulis sering membuat kesalahan dengan sengaja maupun tidak sengaja. Dan ketika peserta didik mengingatkan, penulis berusaha mengatakan, "Terima kasih. Bapak juga bisa salah."
Kalimat itu sederhana. Namun ada pelajaran besar di dalamnya. Guru tidak kehilangan wibawa ketika mengakui kesalahan. Justru wibawa dapat tumbuh karena kejujuran. Begitu pula seorang pemimpin. Mengakui kesalahan tidak otomatis berarti kehilangan kepemimpinan. Sebaliknya, keberanian mengakui kesalahan dapat menjadi tanda bahwa seseorang masih memiliki integritas. Yang berbahaya bukanlah pemimpin yang pernah salah. Yang berbahaya adalah ketika kesalahan tidak pernah mau diakui, kritik selalu dianggap sebagai serangan, dan pembenahan selalu ditunda.
Di luar sekolah, peserta didik melihat dunia yang jauh lebih kompleks. Mereka melihat berita tentang dugaan korupsi. Mereka membaca konflik antarlembaga. Mereka menyaksikan perdebatan politik. Mereka melihat demonstrasi. Mereka membaca kritik di media sosial. Bahkan mereka dapat melihat berbagai peristiwa lingkungan dan bencana yang kemudian memunculkan pertanyaan tentang tanggung jawab negara. Informasi datang begitu cepat. Guru tidak mungkin menyuruh anak-anak menutup mata. Yang harus dilakukan justru sebaliknya: ajari mereka membuka mata dengan nalar.
Ketika seorang anak bertanya, "Pak, mengapa pemimpin seperti itu?" Jangan buru-buru menjawab dengan kebencian. Ajarkan ia berpikir. Tanyakan: "Apa sumber informasinya?"
"Apakah itu fakta atau opini?" "Apakah sudah ada bukti yang dapat dipercaya?" "Apa yang dikatakan pihak lain?" "Apa yang dapat kita pelajari dari peristiwa itu?"
Dengan demikian, kegaduhan di luar sekolah justru menjadi bahan pendidikan. Anak-anak belajar bahwa tidak semua informasi harus dipercaya. Tidak semua kritik harus ditolak. Tidak semua pujian harus diterima. Dan tidak semua orang yang tersenyum berarti benar.
Inilah pentingnya literasi informasi. Di era digital, seorang peserta didik bisa mendapatkan ribuan informasi hanya dalam satu hari. Namun mendapatkan informasi tidak sama dengan memahami informasi. Melihat video bukan berarti mengetahui seluruh konteks. Membaca judul bukan berarti memahami berita. Mendengar seseorang berbicara bukan berarti mengetahui kebenarannya. Karena itu, guru harus mengajarkan satu keterampilan penting: berhenti sejenak sebelum percaya. Periksa. Bandingkan. Analisis. Kemudian simpulkan. Bukankah itu juga hakikat matematika? Tidak asal menjawab. Ada proses. Ada data. Ada logika. Ada pembuktian.
Menariknya, matematika kembali memberi pelajaran tentang kehidupan. Dalam matematika, hasil tidak boleh dipaksakan hanya karena kita menginginkannya. Jika perhitungannya salah, hasilnya salah. Kita tidak dapat mengubah angka enam menjadi tujuh hanya karena ingin jawabannya tujuh. Tetapi dalam kehidupan sosial, kadang manusia tergoda melakukan hal sebaliknya. Fakta dipelintir. Data dipilih sesuai kepentingan. Kesalahan dibungkus dengan narasi. Kritik dianggap permusuhan. Pujian dianggap kebenaran. Di sinilah pendidikan harus hadir. Guru harus mengembalikan anak-anak kepada nalar.
Sebagai praktisi hypnoteaching dan hipnoterapi, penulis memahami bahwa bahasa memiliki kekuatan besar terhadap pembentukan pola pikir. Jika setiap hari anak-anak dijejali ketakutan, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang takut menghadapi kehidupan. Jika setiap hari mereka diajarkan kebencian, mereka akan mudah membenci. Namun jika mereka diajarkan berpikir kritis sekaligus berempati, mereka akan tumbuh menjadi manusia yang mampu melihat persoalan tanpa kehilangan kemanusiaannya. Karena itu, guru tidak perlu mengatakan, "Negeri ini hancur." Guru dapat mengatakan, "Negeri ini memiliki banyak persoalan. Mari kita belajar menjadi generasi yang mampu memperbaikinya." Kalimat kedua jauh lebih sehat. Ia tidak menyangkal kenyataan. Tetapi juga tidak membunuh harapan.
Kita sedang mempersiapkan Generasi Emas 2045. Pertanyaannya sederhana: Generasi emas seperti apa yang kita inginkan? Apakah generasi yang pintar tetapi mudah dimanipulasi? Apakah generasi yang berani berbicara tetapi tidak mampu memeriksa fakta? Apakah generasi yang memiliki banyak pengetahuan tetapi kehilangan karakter? Tentu bukan. Kita membutuhkan generasi yang cerdas sekaligus jujur. Kritis tetapi santun. Berani tetapi bertanggung jawab. Mampu memimpin tetapi tidak haus kekuasaan. Dan ketika melakukan kesalahan, berani mengatakan, "Saya salah."
Karena itu, persoalan "muka badak" sesungguhnya bukan hanya persoalan orang lain. Ia juga menjadi cermin bagi kita. Apakah kita sendiri mudah meminta maaf? Apakah kita mampu menerima kritik? Apakah kita bersedia mengakui kekurangan? Apakah kita mau memperbaiki kesalahan? Jangan sampai kita sibuk meminta pemimpin berubah, sementara kita sendiri tidak pernah mau bercermin. Perubahan bangsa selalu dimulai dari manusia. Dan pendidikan adalah salah satu tempat terbaik untuk menanamkan perubahan itu.
Guru harus menjadi cahaya. Bukan cahaya yang menyilaukan. Tetapi cahaya yang menuntun. Ketika peserta didik melihat kegaduhan, guru memberikan kejernihan. Ketika mereka melihat ketidakjujuran, guru menunjukkan arti integritas. Ketika mereka melihat kesewenang-wenangan, guru mengajarkan pentingnya keadilan. Ketika mereka melihat orang dewasa gagal menjadi teladan, guru berkata: "Jangan kalian tiru kesalahannya. Jadilah generasi yang lebih baik." Kalimat itu mungkin sederhana. Tetapi bisa jadi kelak akan menjadi pegangan hidup seorang anak.
Pada akhirnya, negeri ini tidak membutuhkan pemimpin yang tidak pernah salah. Kita membutuhkan pemimpin yang mau belajar dari kesalahan. Tidak membutuhkan pemimpin yang selalu dipuji. Kita membutuhkan pemimpin yang sanggup mendengar kritik. Tidak membutuhkan pemimpin yang hanya terlihat kuat. Kita membutuhkan pemimpin yang memiliki kekuatan moral. Dan tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar pandai berbicara. Kita membutuhkan pemimpin yang kata dan tindakannya dapat dipercaya. Sebab jabatan adalah sementara. Kekuasaan memiliki batas. Tepuk tangan akan berhenti. Tetapi jejak kepemimpinan akan tinggal dalam ingatan masyarakat. Maka ketika peserta didik bertanya, "Pak, mengapa ada pemimpin yang tidak tahu malu?" Penulis tidak ingin menjawab dengan kemarahan. Penulis menjawab: "Nak, jangan terlalu sibuk mencari siapa yang salah. Belajarlah menjadi manusia yang ketika salah berani mengakuinya, ketika dikritik mau mendengarnya, ketika diberi amanah mampu menjaganya, dan ketika memiliki kekuasaan tidak lupa bahwa semua itu hanya titipan."
Sebab bisa jadi, pendidikan terbaik bukanlah membuat anak-anak mampu memenangkan perdebatan. Pendidikan terbaik adalah membuat mereka mampu menang melawan kesombongan dalam dirinya sendiri. Dan jika suatu hari mereka menjadi pemimpin, semoga mereka tidak menjadi manusia yang sibuk mempertahankan kursi, tetapi manusia yang sibuk mempertahankan nurani. Karena pemimpin yang masih memiliki rasa malu akan mudah melakukan introspeksi. Pemimpin yang masih memiliki nurani akan mudah mendengar. Dan pemimpin yang mampu mengelola dirinya sendiri akan lebih mampu menjaga orang-orang yang dipimpinnya. Di situlah pendidikan menemukan tujuan tertingginya: bukan sekadar mencerdaskan manusia, tetapi memanusiakan manusia.**
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!