VISI | Merawat Keberagamaan di Tengah Perubahan

Desi Rossilawati
Rabu, 14 Januari 2026 | 14:00 WIB
Bagikan
VISI | Merawat Keberagamaan di Tengah Perubahan

Hal ini juga menunjukkan bahwa otoritas keagamaan telah bergeser dari mimbar ke influencer agama, menghadirkan narasi menjadi lebih populer dan emosional. Ruang digital akan menjadi arena utama untuk membentuk persepsi keagamaan, menggantikan ruang nyata atau fisik.

Transformasi digital juga membawa risiko besar yang perlu diantisipasi. Disinformasi keagamaan dan hoaks akan semakin sulit diatasi karena sifatnya yang viral dan memanfaatkan emosi religius masyarakat. Selain itu, konten ekstremisme yang dikemas secara menarik dapat menumbuhkan radikalisasi tanpa struktur organisasi, terutama pada remaja dan Gen Z yang merupakan pengguna terbesar platform digital.

Risiko lainnya adalah delegitimasi lembaga keagamaan moderat, ketika pendapat selektif dari influencer dianggap lebih otoritatif dibandingkan dengan ulama atau institusi resmi. Risiko-risiko ini menunjukkan bahwa ruang digital bukan hanya tempat penyebaran informasi, tetapi juga arena untuk reproduksi identitas dan konflik.

Tidak mustahil bahwa narasi keagamaan publik akan lebih banyak dibentuk oleh konten-konten pendek, algoritma media sosial, dan pencipta konten nonformal yang semakin berpengaruh. Pergeseran ini menciptakan dinamika baru di mana otoritas keagamaan bergeser, pola interpretasi agama menjadi lebih umum, dan interaksi lintas kelompok semakin terpecah.

Dalam konteks ini, kebijakan Moderasi Beragama memerlukan pendekatan yang lebih strategis. Pendekatan ini tidak hanya sekadar berbasis penyuluhan atau seremonial. Kita perlu mengintegrasikannya ke dalam tata kelola pemerintahan digital. Ini termasuk sistem untuk mendeteksi narasi ekstrem, memantau sentimen digital, dan memperkuat regulasi terhadap disinformasi yang berbasis agama.

Dalam ranah sosial dan kultural, kebijakan harus fokus pada produksi narasi yang relevan dengan lanskap komunikasi generasi digital. Moderasi beragama tidak akan hidup bila hanya ada sebagai slogan. Ia harus ada sebagai konten kreatif, mikro-narasi emosional, dan cerita sehari-hari yang mudah dipahami.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.