VISI | Menunggu
Waktu tidak bisa diulang. Tidak bisa dikembalikan. Tidak bisa diganti dengan sertifikat, piagam, atau sambutan panjang. Empat jam yang hilang hari itu adalah empat jam kehidupan. Empat jam energi. Empat jam pembelajaran yang seharusnya bermakna.
Pertanyaannya kemudian sederhana, namun mengusik: apa yang sedang kita ajarkan kepada peserta didik? Bahwa janji waktu bisa dinegosiasikan? Bahwa keterlambatan adalah hak orang berkuasa? Bahwa menunggu adalah kewajiban yang lemah, sementara yang ditunggu bebas semaunya?
Pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas. Pendidikan justru paling kuat saat ditampilkan melalui contoh nyata. Apa yang dilihat peserta didik hari itu jauh lebih keras daripada nasihat guru mana pun. Mereka belajar bahwa: datang tepat waktu tidak selalu penting, kekuasaan bisa mengalahkan komitmen, serta orang kecil harus sabar, orang besar boleh terlambat.
Ironisnya, semua itu terjadi dalam acara yang membawa nama Indonesia Emas. Masa depan yang katanya gemilang. Namun bagaimana emas itu akan ditempa, jika sejak dini anak-anak dibiasakan menunggu tanpa kepastian?
Menunggu sejatinya bukan hanya soal waktu, tetapi soal relasi kuasa. Siapa yang menunggu dan siapa yang ditunggu. Di negeri ini, yang menunggu hampir selalu rakyat, guru, peserta didik. Yang ditunggu hampir selalu pejabat.
Menunggu menjadi simbol ketimpangan. Yang ditunggu merasa wajar datang kapan saja. Yang menunggu merasa tidak pantas bertanya. Lebih menyedihkan lagi, semua itu dibungkus dengan alasan “sudah biasa”.
Padahal, jika kita jujur, menunggu adalah pekerjaan paling membosankan sekaligus melelahkan. Ia menguras energi, kesabaran, bahkan harga diri. Menunggu tanpa kejelasan adalah bentuk pengabaian paling halus, namun menyakitkan.
Penulis tidak sedang mempersoalkan satu orang atau satu peristiwa. Ini tentang pola. Tentang kebiasaan yang terus diwariskan. Tentang keteladanan yang makin langka. Jika budaya menunggu ini terus dipelihara, barangkali kita perlu jujur menyebutnya: bukan Indonesia Emas, melainkan Indonesia Menunggu, atau Indonesia Cemas!
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!