VISI | Menunggu
Oleh Drajat
UNDANGAN itu tampak istimewa. Bahkan terasa sakral. Deklarasi menyongsong Indonesia Emas, sekaligus pemberian penghargaan kepada insan pendidikan yang dianggap telah memberi warna dan mengangkat nama wilayah. Siapa yang tidak bangga? Diundang secara resmi, menjadi tamu kehormatan, disebut sebagai bagian dari orang-orang yang dinilai berkontribusi. Bagi seorang guru dan pegiat pendidikan, tentu ini bukan perkara kecil. Dalam undangan tertulis jelas: pukul 08.00 WIB. Artinya apa? Panitia siap, tamu siap, peserta didik—yang menjadi wajah masa depan negeri ini—sudah berdiri rapi sejak pagi. Mereka mengenakan seragam terbaik, senyum disiapkan, hormat akan diberikan kepada pemimpinnya. Waktu berjalan pelan. Pukul 09.00 berlalu. 10.00 menyusul. 11.00 mulai terasa ganjil. Hingga akhirnya, sekitar pukul 12.00, sosok yang dinanti itu hadir. Empat jam menunggu. Empat jam yang hilang. Empat jam yang tidak akan pernah kembali. Acara pun berjalan seperti tak terjadi apa-apa.
Menunggu yang Dianggap Biasa
Di sela obrolan santai dengan tamu lain, penulis justru mendapat “penghiburan” yang lebih menyedihkan. “Ah, ini mah biasa,” kata seorang rekan. “Pernah ada undangan jam 08.00, pejabatnya datang jam 14.00,” lanjutnya. Kalimat itu diucapkan tanpa marah. Tanpa protes. Bahkan nyaris tanpa rasa heran. Seolah keterlambatan telah naik kelas menjadi budaya. Dan di titik itulah penulis merasa miris. Bukan karena harus menunggu, tetapi karena kita semua seakan telah berdamai dengan ketidakberesan.
Bukankah ini aneh? Di acara yang mengusung tema masa depan bangsa, justru yang dipertontonkan adalah pengabaian terhadap nilai paling dasar: menghargai waktu. Orang bijak sejak dulu mengingatkan, waktu adalah sesuatu yang paling mahal. Orang Barat menyebutnya time is money. Dalam kearifan Timur dikatakan, waktu adalah pedang—jika tidak digunakan dengan baik, ia akan melukai kita sendiri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!