Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Peringati Hari Pramuka ke-65, KDS Perkuat Semangat Pengabdian Generasi Muda 25 Aug 2026 122 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan ke Warga Terdampak Kekeringan di Sukabumi 25 Aug 2026 12.517 Jiwa di Kota Sukabumi Terdampak Kesulitan Air Bersih 25 Aug 2026 5G-A Dukung Robot Humanoid Bertanding di Beijing 25 Aug 2026 BPBD Kota Sukabumi Catat Empat Kejadian Kebakaran Lahan Selama Agustus 25 Aug 2026 ECOVACS Bawa Robot Rumah Pintar ke Singapore Pop Toy Show 2026 25 Aug 2026 Konser Masih Jadi Primadona, Warga Hong Kong Makin Gemar Beli Tiket Mendadak 25 Aug 2026 VISI | Maulid Nabi: Peringatan atau Keteladanan? 25 Aug 2026 Bandung Great Sale 2026 Diserbu Pengunjung, Transaksi Terus Dihitung 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Peringati Hari Pramuka ke-65, KDS Perkuat Semangat Pengabdian Generasi Muda 25 Aug 2026 122 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan ke Warga Terdampak Kekeringan di Sukabumi 25 Aug 2026 12.517 Jiwa di Kota Sukabumi Terdampak Kesulitan Air Bersih 25 Aug 2026 5G-A Dukung Robot Humanoid Bertanding di Beijing 25 Aug 2026 BPBD Kota Sukabumi Catat Empat Kejadian Kebakaran Lahan Selama Agustus 25 Aug 2026 ECOVACS Bawa Robot Rumah Pintar ke Singapore Pop Toy Show 2026 25 Aug 2026 Konser Masih Jadi Primadona, Warga Hong Kong Makin Gemar Beli Tiket Mendadak 25 Aug 2026 VISI | Maulid Nabi: Peringatan atau Keteladanan? 25 Aug 2026 Bandung Great Sale 2026 Diserbu Pengunjung, Transaksi Terus Dihitung 25 Aug 2026

VISI | Menunggu

ED
Rabu, 31 Desember 2025 | 05:36 WIB
Bagikan
VISI | Menunggu

Oleh Drajat

Guru

UNDANGAN itu tampak istimewa. Bahkan terasa sakral. Deklarasi menyongsong Indonesia Emas, sekaligus pemberian penghargaan kepada insan pendidikan yang dianggap telah memberi warna dan mengangkat nama wilayah. Siapa yang tidak bangga? Diundang secara resmi, menjadi tamu kehormatan, disebut sebagai bagian dari orang-orang yang dinilai berkontribusi. Bagi seorang guru dan pegiat pendidikan, tentu ini bukan perkara kecil. Dalam undangan tertulis jelas: pukul 08.00 WIB. Artinya apa? Panitia siap, tamu siap, peserta didik—yang menjadi wajah masa depan negeri ini—sudah berdiri rapi sejak pagi. Mereka mengenakan seragam terbaik, senyum disiapkan, hormat akan diberikan kepada pemimpinnya. Waktu berjalan pelan. Pukul 09.00 berlalu. 10.00 menyusul. 11.00 mulai terasa ganjil. Hingga akhirnya, sekitar pukul 12.00, sosok yang dinanti itu hadir. Empat jam menunggu. Empat jam yang hilang. Empat jam yang tidak akan pernah kembali. Acara pun berjalan seperti tak terjadi apa-apa.

Menunggu yang Dianggap Biasa

Di sela obrolan santai dengan tamu lain, penulis justru mendapat “penghiburan” yang lebih menyedihkan. “Ah, ini mah biasa,” kata seorang rekan. “Pernah ada undangan jam 08.00, pejabatnya datang jam 14.00,” lanjutnya. Kalimat itu diucapkan tanpa marah. Tanpa protes. Bahkan nyaris tanpa rasa heran. Seolah keterlambatan telah naik kelas menjadi budaya. Dan di titik itulah penulis merasa miris. Bukan karena harus menunggu, tetapi karena kita semua seakan telah berdamai dengan ketidakberesan.

Bukankah ini aneh? Di acara yang mengusung tema masa depan bangsa, justru yang dipertontonkan adalah pengabaian terhadap nilai paling dasar: menghargai waktu. Orang bijak sejak dulu mengingatkan, waktu adalah sesuatu yang paling mahal. Orang Barat menyebutnya time is money. Dalam kearifan Timur dikatakan, waktu adalah pedang—jika tidak digunakan dengan baik, ia akan melukai kita sendiri.

Waktu tidak bisa diulang. Tidak bisa dikembalikan. Tidak bisa diganti dengan sertifikat, piagam, atau sambutan panjang. Empat jam yang hilang hari itu adalah empat jam kehidupan. Empat jam energi. Empat jam pembelajaran yang seharusnya bermakna.

Pertanyaannya kemudian sederhana, namun mengusik: apa yang sedang kita ajarkan kepada peserta didik? Bahwa janji waktu bisa dinegosiasikan? Bahwa keterlambatan adalah hak orang berkuasa? Bahwa menunggu adalah kewajiban yang lemah, sementara yang ditunggu bebas semaunya?

Pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas. Pendidikan justru paling kuat saat ditampilkan melalui contoh nyata. Apa yang dilihat peserta didik hari itu jauh lebih keras daripada nasihat guru mana pun. Mereka belajar bahwa: datang tepat waktu tidak selalu penting, kekuasaan bisa mengalahkan komitmen, serta orang kecil harus sabar, orang besar boleh terlambat.

Ironisnya, semua itu terjadi dalam acara yang membawa nama Indonesia Emas. Masa depan yang katanya gemilang. Namun bagaimana emas itu akan ditempa, jika sejak dini anak-anak dibiasakan menunggu tanpa kepastian?

Menunggu sejatinya bukan hanya soal waktu, tetapi soal relasi kuasa. Siapa yang menunggu dan siapa yang ditunggu. Di negeri ini, yang menunggu hampir selalu rakyat, guru, peserta didik. Yang ditunggu hampir selalu pejabat.

Menunggu menjadi simbol ketimpangan. Yang ditunggu merasa wajar datang kapan saja. Yang menunggu merasa tidak pantas bertanya. Lebih menyedihkan lagi, semua itu dibungkus dengan alasan “sudah biasa”.

Padahal, jika kita jujur, menunggu adalah pekerjaan paling membosankan sekaligus melelahkan. Ia menguras energi, kesabaran, bahkan harga diri. Menunggu tanpa kejelasan adalah bentuk pengabaian paling halus, namun menyakitkan.

Penulis tidak sedang mempersoalkan satu orang atau satu peristiwa. Ini tentang pola. Tentang kebiasaan yang terus diwariskan. Tentang keteladanan yang makin langka. Jika budaya menunggu ini terus dipelihara, barangkali kita perlu jujur menyebutnya: bukan Indonesia Emas, melainkan Indonesia Menunggu, atau Indonesia Cemas!

Menunggu pemimpin tepat waktu. Menunggu kebijakan yang konsisten. Menunggu janji yang ditepati. Menunggu teladan yang nyata. Dan entah sampai kapan.

Menunggu sebenarnya bisa menjadi pelajaran berharga—jika disadari. Ia mengajarkan kesabaran, kerendahan hati, dan refleksi. Namun menunggu yang dipaksakan oleh kelalaian, oleh arogansi, oleh kebiasaan buruk, bukanlah pendidikan. Ia adalah pengkhianatan terhadap nilai.

Sudah saatnya kita bertanya dengan jujur: apakah kita ingin membangun bangsa yang menghormati waktu, atau bangsa yang terbiasa menunggu? Sebab masa depan tidak menunggu siapa pun. Dan bangsa yang gemar membuat rakyatnya menunggu, sesungguhnya sedang meninggalkan masa depannya sendiri.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.