VISI | Mengurus Pendidik Kok Coba-Coba
Pendidikan Bukan Laboratorium Politik
Kesalahan terbesar yang sering terjadi adalah menjadikan pendidikan sebagai arena eksperimen kebijakan. Setiap pergantian kepemimpinan melahirkan program baru. Setiap pergantian pejabat menghadirkan istilah baru. Setiap periode muncul prioritas baru.
Padahal pendidikan membutuhkan konsistensi. Pohon tidak akan tumbuh jika akarnya terus dipindahkan. Demikian pula pendidikan. Ia membutuhkan arah jangka panjang yang stabil. Bukan perubahan yang lahir karena kepentingan sesaat. Karena pendidikan bukan laboratorium politik. Pendidikan adalah laboratorium peradaban.
Jika kita sungguh-sungguh ingin memperbaiki keadaan, ada beberapa hal mendasar yang harus dilakukan. Pertama, kembalikan pendidikan kepada ahlinya. Kebijakan pendidikan harus disusun berdasarkan kajian akademik, bukan kepentingan politik.
Kedua, hormati kompetensi. Jabatan strategis harus diberikan kepada orang yang memiliki kapasitas, integritas, dan rekam jejak yang jelas. Ketiga, lindungi kritik. Kritik adalah vitamin demokrasi. Bangsa yang besar bukan bangsa yang bebas dari kritik, melainkan bangsa yang mampu belajar dari kritik.
Keempat, bangun budaya berpikir. Sekolah harus menjadi tempat lahirnya gagasan, bukan tempat membunuh keberanian berpikir. Kelima, jadikan guru sebagai mitra. Guru bukan pelaksana kebijakan semata. Guru adalah saksi utama yang memahami kondisi pendidikan di lapangan.
Sebagai guru yang telah menghabiskan sebagian besar hidup di ruang kelas, saya percaya satu hal: Anak-anak Indonesia tidak kalah cerdas. Mereka memiliki potensi luar biasa. Yang mereka butuhkan hanyalah sistem yang memberi ruang untuk tumbuh.
Karena itu, mengurus pendidikan tidak boleh dilakukan dengan coba-coba. Tidak boleh berdasarkan selera kekuasaan. Tidak boleh berdasarkan kepentingan kelompok. Sebab setiap keputusan yang salah hari ini akan dibayar mahal oleh generasi berikutnya. Dan sejarah selalu mencatat dengan jujur: Bangsa yang mengabaikan pendidikan akan tertinggal. Tetapi bangsa yang menghormati ilmu pengetahuan, menghargai kompetensi, dan mendengarkan suara para pendidik akan menemukan jalannya menuju kemajuan. Maka sebelum terlambat, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita benar-benar sedang membangun pendidikan, atau sekadar sedang mencoba-coba mengelola masa depan bangsa?**
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!