VISI | Mengurus Pendidik Kok Coba-Coba
Persoalan berikutnya adalah budaya yang tampaknya belum pernah benar-benar hilang dari negeri ini: ABS atau Asal Bapak Senang. Budaya ini sangat berbahaya karena membunuh profesionalisme. Yang dicari bukan lagi kemampuan. Bukan lagi kompetensi. Bukan lagi integritas. Tetapi loyalitas tanpa batas. Akibatnya, jabatan strategis sering kali tidak diisi oleh orang yang paling siap, melainkan oleh orang yang paling dekat. Dan ketika posisi penting diisi oleh orang yang tidak tepat, maka keputusan yang lahir pun sulit tepat. Dalam dunia pendidikan, kesalahan seperti ini sangat mahal harganya. Karena yang dipertaruhkan bukan sekadar program, melainkan masa depan jutaan anak.
Kita sering mendengar slogan besar tentang Generasi Emas 2045. Sebuah cita-cita yang tentu patut diapresiasi. Namun pertanyaannya: Apakah kita sedang bergerak ke arah sana? Ataukah justru sebaliknya? Bagaimana mungkin berbicara tentang generasi emas jika: literasi masih rendah, numerasi masih memprihatinkan, budaya membaca belum tumbuh, kreativitas anak muda tidak mendapat ruang, dan kritik dianggap ancaman?
Generasi emas tidak lahir dari slogan. Generasi emas lahir dari sistem pendidikan yang sehat, pemimpin yang visioner, dan budaya yang menghargai ilmu pengetahuan. Jika yang terjadi justru sebaliknya, jangan-jangan yang sedang kita siapkan bukan generasi emas, melainkan generasi cemas. Cemas menghadapi masa depan. Cemas mengemukakan pendapat. Cemas menjadi berbeda.
Di lapangan, banyak sekolah sebenarnya memiliki potensi besar. Guru-guru kreatif masih ada. Kepala sekolah visioner masih ada. Siswa-siswa cerdas masih banyak. Namun mereka sering kali bergerak dalam ruang yang sempit. Segala sesuatu harus menunggu. Menunggu petunjuk. Menunggu arahan. Menunggu keputusan. Akibatnya, inovasi berjalan lambat. Padahal dunia tidak menunggu. Teknologi terus berkembang. Persaingan global semakin ketat. Negara lain terus berlari. Sementara kita masih sibuk memperdebatkan hal-hal yang seharusnya sudah selesai sejak lama.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!