IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

Habib Syarief: Wajib Belajar 13 Tahun Harus Diikuti Pemerataan Akses Pendidikan

Desi Rossilawati
PN
Selasa, 14 Juli 2026 | 18:27 WIB
Bagikan
Habib Syarief: Wajib Belajar 13 Tahun Harus Diikuti Pemerataan Akses Pendidikan

Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKB Habib Syarief Muhammad./visi.news/ist.

VISI.NEWS – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Habib Syarief Muhammad menyoroti berbagai persoalan pendidikan yang masih muncul bertepatan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) tahun ajaran 2026/2027. Menurutnya, momentum MPLS harus menjadi bahan evaluasi pemerintah dalam memastikan implementasi program Wajib Belajar 13 Tahun berjalan secara merata dan berkualitas.

Hal itu disampaikan Habib Syarief di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Habib menilai pemerintah perlu memiliki peta pendidikan yang lebih komprehensif untuk memetakan kondisi peserta didik mulai dari jenjang taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA). Menurutnya, persoalan penerimaan murid baru tidak hanya terjadi di satu daerah, melainkan hampir di berbagai wilayah di Indonesia.

"Perlu ada satu peta yang lebih lengkap berkaitan dengan siswa ini," ujarnya.

Ia menyoroti ketimpangan yang terjadi antara sekolah negeri dan sekolah swasta. Di satu sisi, banyak sekolah swasta mengalami kekurangan peserta didik, sementara sejumlah sekolah negeri justru mengalami kelebihan kapasitas.

Habib juga mengungkapkan masih adanya pelanggaran terhadap ketentuan jumlah rombongan belajar (rombel). Padahal pemerintah telah menetapkan batas maksimal rombel, namun di lapangan masih ditemukan sekolah yang membuka kelas melebihi ketentuan.

Menurutnya, kondisi tersebut bahkan memaksa sejumlah sekolah memanfaatkan ruangan yang tidak semestinya digunakan sebagai ruang belajar. Situasi itu dinilai berpotensi menurunkan kualitas layanan pendidikan sekaligus berdampak terhadap keberlangsungan sekolah swasta.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa implementasi program Wajib Belajar 13 Tahun harus diikuti dengan kepastian pembiayaan pendidikan. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan program sekolah gratis benar-benar dapat dirasakan masyarakat, bukan sekadar menjadi kebijakan di atas kertas.

Habib juga menilai masih terdapat kesenjangan kualitas antarsekolah yang memunculkan stigma sekolah favorit dan sekolah nonfavorit. Di sisi lain, akses pendidikan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) juga masih menjadi pekerjaan rumah karena banyak siswa harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk bersekolah.

Ia menyebut persoalan-persoalan tersebut menjadi bagian yang harus diselesaikan dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).

Meski demikian, Habib memberikan apresiasi terhadap langkah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam merespons berbagai persoalan pendidikan.

"Secara keseluruhan saya melihat ada progres. Di bawah kepemimpinan Menteri, jarak antara munculnya masalah dengan solusi tidak terlalu lama. Sekarang tidak terjadi lagi pembiaran terhadap persoalan-persoalan yang muncul," katanya.

Habib berharap berbagai catatan tersebut menjadi bahan evaluasi pemerintah agar pelaksanaan MPLS tidak hanya menjadi kegiatan pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga momentum memperbaiki tata kelola pendidikan nasional, mulai dari pemerataan akses, daya tampung sekolah, hingga peningkatan kualitas layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.