VISI | Mengurus Pendidik Kok Coba-Coba
Oleh: Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. Jabar
ADA satu profesi yang tidak boleh dilakukan dengan cara coba-coba: mengurus pendidikan. Sebab pendidikan bukan sekadar urusan hari ini. Ia adalah investasi puluhan bahkan ratusan tahun ke depan. Kesalahan mengelola pendidikan mungkin tidak langsung terlihat hari ini, tetapi dampaknya akan dirasakan oleh satu generasi, bahkan satu bangsa.
Karena itu, setiap kebijakan pendidikan seharusnya lahir dari kajian mendalam, penelitian yang kuat, dan pemahaman yang utuh terhadap kebutuhan peserta didik. Bukan karena kepentingan politik, bukan karena pencitraan, apalagi karena keinginan sesaat para pemegang kekuasaan. Sayangnya, yang dirasakan banyak pelaku pendidikan hari ini justru sebaliknya. Pendidikan seperti sedang dijalankan dengan metode "coba-coba".
Dalam negara yang sehat, kaum intelektual menjadi mitra pemerintah. Mereka memberikan kritik, masukan, hasil penelitian, dan berbagai rekomendasi demi kemajuan bangsa. Namun yang terjadi belakangan justru mengkhawatirkan. Suara akademisi sering dianggap gangguan. Kritik dari kampus dicurigai sebagai kepentingan tertentu. Bahkan tidak jarang muncul narasi yang merendahkan kelompok intelektual hanya karena mereka berbeda pandangan dengan penguasa.
Padahal sejarah dunia menunjukkan bahwa kemajuan bangsa selalu lahir dari kolaborasi antara pemimpin dan kaum cendekiawan. Jepang bangkit karena ilmu pengetahuan. Korea Selatan maju karena investasi pendidikan. Singapura berkembang karena menghormati kompetensi. Mereka tidak memusuhi orang pintar. Mereka justru mencarinya. Karena mereka sadar, masa depan tidak dibangun oleh tepuk tangan, tetapi oleh pemikiran.
Lebih menyedihkan lagi ketika anak-anak muda yang kritis, cerdas, dan memiliki idealisme justru dianggap mengganggu. Mereka yang berani bertanya dianggap melawan. Mereka yang mengkritik dianggap tidak menghormati. Mereka yang menunjukkan fakta dianggap mengancam kenyamanan. Akibatnya, banyak anak muda mulai belajar satu hal yang berbahaya: Bahwa lebih aman diam daripada berpikir. Bahwa lebih aman mengikuti arus daripada menyampaikan kebenaran. Jika kondisi ini terus berlangsung, kita sedang membunuh kreativitas generasi muda secara perlahan. Padahal bangsa besar lahir dari generasi yang berani berpikir, bukan generasi yang dibiasakan takut.
Persoalan berikutnya adalah budaya yang tampaknya belum pernah benar-benar hilang dari negeri ini: ABS atau Asal Bapak Senang. Budaya ini sangat berbahaya karena membunuh profesionalisme. Yang dicari bukan lagi kemampuan. Bukan lagi kompetensi. Bukan lagi integritas. Tetapi loyalitas tanpa batas. Akibatnya, jabatan strategis sering kali tidak diisi oleh orang yang paling siap, melainkan oleh orang yang paling dekat. Dan ketika posisi penting diisi oleh orang yang tidak tepat, maka keputusan yang lahir pun sulit tepat. Dalam dunia pendidikan, kesalahan seperti ini sangat mahal harganya. Karena yang dipertaruhkan bukan sekadar program, melainkan masa depan jutaan anak.
Kita sering mendengar slogan besar tentang Generasi Emas 2045. Sebuah cita-cita yang tentu patut diapresiasi. Namun pertanyaannya: Apakah kita sedang bergerak ke arah sana? Ataukah justru sebaliknya? Bagaimana mungkin berbicara tentang generasi emas jika: literasi masih rendah, numerasi masih memprihatinkan, budaya membaca belum tumbuh, kreativitas anak muda tidak mendapat ruang, dan kritik dianggap ancaman?
Generasi emas tidak lahir dari slogan. Generasi emas lahir dari sistem pendidikan yang sehat, pemimpin yang visioner, dan budaya yang menghargai ilmu pengetahuan. Jika yang terjadi justru sebaliknya, jangan-jangan yang sedang kita siapkan bukan generasi emas, melainkan generasi cemas. Cemas menghadapi masa depan. Cemas mengemukakan pendapat. Cemas menjadi berbeda.
Di lapangan, banyak sekolah sebenarnya memiliki potensi besar. Guru-guru kreatif masih ada. Kepala sekolah visioner masih ada. Siswa-siswa cerdas masih banyak. Namun mereka sering kali bergerak dalam ruang yang sempit. Segala sesuatu harus menunggu. Menunggu petunjuk. Menunggu arahan. Menunggu keputusan. Akibatnya, inovasi berjalan lambat. Padahal dunia tidak menunggu. Teknologi terus berkembang. Persaingan global semakin ketat. Negara lain terus berlari. Sementara kita masih sibuk memperdebatkan hal-hal yang seharusnya sudah selesai sejak lama.
Pendidikan Bukan Laboratorium Politik
Kesalahan terbesar yang sering terjadi adalah menjadikan pendidikan sebagai arena eksperimen kebijakan. Setiap pergantian kepemimpinan melahirkan program baru. Setiap pergantian pejabat menghadirkan istilah baru. Setiap periode muncul prioritas baru.
Padahal pendidikan membutuhkan konsistensi. Pohon tidak akan tumbuh jika akarnya terus dipindahkan. Demikian pula pendidikan. Ia membutuhkan arah jangka panjang yang stabil. Bukan perubahan yang lahir karena kepentingan sesaat. Karena pendidikan bukan laboratorium politik. Pendidikan adalah laboratorium peradaban.
Jika kita sungguh-sungguh ingin memperbaiki keadaan, ada beberapa hal mendasar yang harus dilakukan. Pertama, kembalikan pendidikan kepada ahlinya. Kebijakan pendidikan harus disusun berdasarkan kajian akademik, bukan kepentingan politik.
Kedua, hormati kompetensi. Jabatan strategis harus diberikan kepada orang yang memiliki kapasitas, integritas, dan rekam jejak yang jelas. Ketiga, lindungi kritik. Kritik adalah vitamin demokrasi. Bangsa yang besar bukan bangsa yang bebas dari kritik, melainkan bangsa yang mampu belajar dari kritik.
Keempat, bangun budaya berpikir. Sekolah harus menjadi tempat lahirnya gagasan, bukan tempat membunuh keberanian berpikir. Kelima, jadikan guru sebagai mitra. Guru bukan pelaksana kebijakan semata. Guru adalah saksi utama yang memahami kondisi pendidikan di lapangan.
Sebagai guru yang telah menghabiskan sebagian besar hidup di ruang kelas, saya percaya satu hal: Anak-anak Indonesia tidak kalah cerdas. Mereka memiliki potensi luar biasa. Yang mereka butuhkan hanyalah sistem yang memberi ruang untuk tumbuh.
Karena itu, mengurus pendidikan tidak boleh dilakukan dengan coba-coba. Tidak boleh berdasarkan selera kekuasaan. Tidak boleh berdasarkan kepentingan kelompok. Sebab setiap keputusan yang salah hari ini akan dibayar mahal oleh generasi berikutnya. Dan sejarah selalu mencatat dengan jujur: Bangsa yang mengabaikan pendidikan akan tertinggal. Tetapi bangsa yang menghormati ilmu pengetahuan, menghargai kompetensi, dan mendengarkan suara para pendidik akan menemukan jalannya menuju kemajuan. Maka sebelum terlambat, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita benar-benar sedang membangun pendidikan, atau sekadar sedang mencoba-coba mengelola masa depan bangsa?**
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!