VISI | Kopontren dan Pemberdayaan Ekonomi Pesantren
- Santri hanya membayar Rp 350.000 per bulan untuk asrama dan makan dua kali sehari.
- Santri dibebaskan biaya pendidikan sama sekali dengan menjadi "santri karyawan" yang membantu mengelola unit usaha.
Pemberdayaan Masyarakat:
- Membeli garam dari petani garam lokal untuk diolah dan dikemas.
- Mempekerjakan ribuan karyawan dari masyarakat sekitar.
- Menjadi kakak asuh bagi 100 Kopdes/Kel Merah Putih di Lamongan dengan keuntungan bersih masing-masing sekitar Rp 15 juta per bulan.
Pengakuan: Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah pada November 2025 menyatakan akan mereplikasi model Koperasi Sunan Drajat dan menjadikannya tempat magang bagi pengurus Kopdes/Kel Merah Putih dari seluruh Indonesia. Direktur Utama Kopontren PPSD, KH Anas Alhifni (Gus Anas), menekankan bahwa kunci kesuksesan adalah inisiasi yang kuat dan melibatkan masyarakat sekitar dalam ekosistem bisnis.
3. Koperasi Pondok Pesantren Matholi'ul Anwar, Lamongan
Profil: Meskipun tidak sepopuler Al-Ittifaq atau Sunan Drajat, Kopontren Matholi'ul Anwar di Lamongan juga menunjukkan prestasi yang baik dan menjadi salah satu rujukan Kementerian Koperasi dalam pengembangan ekonomi pesantren.
Keunggulan:
- Terintegrasi dengan program "Lamongan Nyantri" dari Pemerintah Kabupaten Lamongan.
- Berkolaborasi dengan 474 Kopdes/Kel Merah Putih yang merupakan terbanyak di Jawa Timur.
- 96 koperasi di antaranya beroperasi aktif di 21 kecamatan.
- Menjadi model sinergi antara Kopontren dan Kopdes dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir Pantura.
Tantangan Dan Strategi Pengembangan Kopontren
Tantangan yang Dihadapi
1. Keterbatasan SDM Profesional: Tidak semua Kopontren memiliki SDM yang terlatih dalam manajemen bisnis modern
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!