VISI | Ketika Tangan Ditangkap
“Saya korban,” katanya.
“Sejak dicetak, cita-cita saya hanya ingin membeli beras, membayar sekolah, atau diselipkan seorang nenek ke dalam saku cucunya. Tetapi takdir membawa saya masuk ke amplop, naik mobil gelap, lalu duduk bersama orang-orang yang berbicara dengan suara kecil tentang angka-angka besar.”
Kopi di atas meja segera menjadi saksi. Namun, setelah dimintai keterangan, kopi itu mengaku ketika kejadian, sudah dingin dan lupa segala peristiwanya. Sendok memilih bungkam. Kursi merasa tidak pernah diduduki siapa pun. Bahkan kamera pengawas mendadak rabun karena terlalu lama menatap kekuasaan.
Beberapa saat kemudian, berita OTT berlari ke televisi. Para pembawa acara memasang wajah paling serius. Kata diduga beterbangan di studio seperti kelelawar yang takut matahari. Di bawah layar, huruf-huruf merah berlari membawa kabar: pejabat X diamankan, uang sekian miliar disita, sejumlah ruangan disegel.
Di rumah-rumah, rakyat menonton sambil menghitung uang belanja. Mereka takjub mengetahui bahwa sebuah tas kecil dapat memuat uang sebanyak anggaran satu kecamatan. Seorang petani memandang karung pupuknya yang kosong. Seorang guru honorer memandang dompetnya yang lebih jujur daripada saldo rekeningnya. Seorang pedagang gorengan mulai semangat bahwa tahu isi pun sepatutnya bisa mengikuti tender.
Keesokan harinya, orang yang tertangkap keluar dari gedung pemeriksaan dengan rompi berwarna mencolok. Ia tersenyum dan melambaikan tangan kepada wartawan, seperti baru memenangkan lomba kebersihan antar kementerian.
“Saya menghormati proses hukum,” katanya.
Kalimat itu kemudian dimasukkan ke dalam mesin fotokopi. Dicetak seribu lembar. Dibagikan kepada siapa saja yang kelak membutuhkannya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!